Dari Hobi, Dcraft Indonesia Menjelma UMKM Hijau yang Tembus Pasar Mancanegara

9 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bagi sebagian orang, sisa limbah produksi kayu lazimnya bakal berakhir di tempat pembuangan. Di tangan Dewi Caprianita, sisa produksi kayu yang kerap dianggap sampah itu diubah menjadi berbagai karya bernilai ekonomi tinggi yang menembus pasar mancanegara.

Sejumlah produk dari sisa limbah kayu itu tersusun rapi di garasi rumah pribadinya disulap menjadi galeri Dcraft Indonesia. Ada aksesori, gantungan kunci estetik berbentuk raket padel, pasir kucing wood pellet, hingga bahan bakar ramah lingkungan dari serbuk kayu.

“Jadi enggak ada sisa dari kayu-kayu itu,” kata perempuan berusia 42 tahun itu ketika Republika mendatangi galeri Dcraft Indonesia di kawasan Taman Kota, Jakarta Barat, Selasa (30/6/2026).

Olahan sisa limbah kayu itu hanya sebagian hasil inovasi Dewi, founder Dcraft Indonesia. Dari galeri itu, muncul juga sejumlah ide untuk membuat produk kayu jati berupa nampan, talenan, gelas dan piring, hingga tumbler dengan motif ilustrasi berwarna ceria.

Perempuan yang memiliki latar belakang sebagai arsitek itu mengisahkan awal mula perjalanannya mendirikan Dcraft Indonesia hanya sekadar untuk menyalurkan hobi pada 2018. Sebab, sejak lama ia memiliki kegemaran menggambar di atas kain. Gambar-gambar itu kemudian disalurkan dalam media hijab hingga tas ramah lingkungan untuk keperluan pribadi yang dipamerkannya di media sosial. Hingga akhirnya, ia mendapatkan pesanan dari beberapa kenalannya hingga datang tawaran untuk korporasi dalam jumlah besar.

“Jadi kita diorder lumayan banyak saat itu, jadi perdana gitu. Jadi dari awalnya hobi, jadi kayak nyemplung ke korporasi, sampai sekarang,” kata dia.

Hobi sekaligus usaha sampingannya itu terus dijalani Dewi hingga masa pandemi Covid-19. Ketika itu, ia melihat peluang dari perubahan perilaku masyarakat yang lebih banyak di rumah. Alhasil, ia memutuskan untuk membeli sejumlah perlengkapan dekorasi rumah berbahan kayu untuk kebutuhan fotografi.

Awalnya, Dewi berencana menawarkan jasa fotografi dengan latar dekorasi kayu untuk mempromosikan usaha kuliner sejumlah kenalannya. Gayung bersambut, sejumlah usaha kuliner milik kenalannya tak henti mengirimkan makanan ke rumah Dewi untuk dibuatkan foto dengan produk miliknya.

“Yaudah tuh, selama sebulan enggak masak. Ada yang kirim bakmi hingga tumpeng, dikirim ke rumah untuk difoto dengan produk kayu kayak talenan, mangkok. Diposting sama mereka, tapi kok malah jadi banyak permintaan kayu,” kata Dewi.

Jalan untuk beralih ke dunia kerajinan kayu makin terbuka ketika ada sebuah perusahaan yang juga hendak memesan produk dekorasi dapur miliknya. Perusahaan itu menawarkan peluang untuk membuat hampers berbahan kayu. Bermodal nekat, Dewi mengiyakan tawaran itu dengan ikut program pengadaan hingga akhirnya bisa lolos. Setelahnya, ia baru pergi ke Jepara, Jawa Tengah, untuk mencari perajin kayu untuk membantu produksi kreasi miliknya sendiri.

“Jadi kayak semua tuh dipaksa untuk bisa. Jadi kayak ketidaksengajaan semua prosesnya,” ujar Dewi.

Menurut dia, awalnya produk yang dibuatnya itu hanya berupa talenan, mangkok, gelas, mug, hingga tumbler berbahan kayu yang polos tanpa gambar. Berbagai produk itu biasanya ditawarkan sebagai hampers ke sejumlah korporasi.

Dari berbagai dekorasi polos itu, Dewi berinovasi untuk menggambar kekayaan alam dan budaya Indonesia di atasnya menggunakan cat akrilik. Hasil karyanya itu kemudian digantung di depan toko miliknya. Namun, produk yang semula dibuat untuk hiasan semata itu justru diminati. Alhasil, ia mulai serius menggambar di atas produk kayu buatannya, hingga akhirnya pesanan mulai berdatangan dari berbagai kalangan, bahkan hingga mencapai seratusan pcs.

Banyaknya pesanan itu membuat Dewi mencari cara untuk memproduksi karyanya dalam jumlah besar dengan cepat. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan metode cetak untuk membuat produk secara massal.

Produk kayu dengan ilustrasi berwarna cerah buatannya itu mendapatkan respons positif dari publik, khususnya dari para pecinta kerajinan kayu. Pasalnya, ketika itu masih jarang ada dekorasi kayu yang memiliki ilustrasi bertemakan Nusantara.

“Alhamdulillah ya, kita akhirnya bisa eksis, dan kita bisa sebagai, apa ya, kayak suatu inovasi yang baru, dan bisa jadi inspirasi buat teman-teman. Jadi kita memang jadi, ikonnya jadi Dcraft ini bergambar, warna-warni, colorful," kata dia.

Tingginya antusias publik terhadap produknya itu membuat Dewi harus memilih antara melanjutkan karier atau mengembangkan usahanya. Pasalnya, ia tidak bisa terus membagi waktu untuk dua kegiatannya itu.

Alhasil, pada 2020, Dewi memutuskan berhenti dari tempat kerjanya untuk fokus mengembangkan usaha kecilnya itu. Apalagi, usaha itu dikembangkan dari hobi sekaligus passion.

Setelah fokus menggeluti usahanya itu, Dewi mencoba mencari tahu lebih jauh mengenai kerajinan kayu. Hingga akhirnya ia berlabuh di wilayah Situbondo, Jawa Timur. Di tempat itulah ia menemukan kelompok perajin lokal untuk diajak kerja sama membuat berbagai produk Dcraft Indonesia.

Tak hanya itu, ia juga mengikuti berbagai pelatihan untuk mengembangkan bisnisnya. Pada 2021, ia bergabung dengan Jakpreneur, sebuah platform milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk pengembangan UMKM. Dari sana, datang kesempatan untuk Dcraft Indonesia mengikuti berbagai pameran nasional.

"Kami bahkan dibawa ke Mandalika untuk pameran saat ada MotoGP," kata Dewi.

Tak hanya mengakses satu program, Dewi bersama UMKM miliknya juga ikut sejumlah program pengembangan usaha yang difasilitasi berbagai lembaga dan perusahaan. Hingga akhirnya, produk Dcraft Indonesia diikutsertakan dalam pameran di berbagai belahan dunia, mulai dari ke Cina, Malaysia, Thailand, Inggris, hingga Jerman.

Menurut dia, salah satu program yang paling berjasa dalam prosesnya menjalankan usaha adalah pengembangan UMKM dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta. Dari pelatihan itu juga ia baru sadar bahwa usaha yang dijalankannya termasuk dalam kategori UMKM hijau.

"Jadi dari awal kami ingin tidak meninggalkan sampah dalam produksi. Kebetulan di BI ada program itu. Kami juga diajari lebih detail untuk menjadi UMKM hijau," kata dia.

Tak hanya sekadar bebas dari sampah, pelatihan yang diberikan oleh BI juga mencakup penghitungan emisi karbon yang dihasilkan dalam proses produksi. Hal itu diajarkan tidak lain untuk menambah nilai dari produk yang dihasilkan.

Menurut Dewi, pelajaran itu sangat penting bagi pelaku UMKM. Pasalnya, banyak konsumen mulai fokus mencari produk yang ramah lingkungan.

Bukan hanya diberikan pemahaman, BI juga memfasilitasi para UMKM untuk terus berkembang. Bahkan, setiap UMKM yang menjadi binaan mereka akan terus dipantau secara berkala dan selalu dilibatkan dalam berbagai pameran.

"Misalnya omzet turun, mereka tanya kenapa. Jadi terus dipantau. Lalu mereka juga terus melibatkan UMKM binaan dalam berbagai event. Jadi kami sebagai UMKM juga bisa terus berkembang," kata dia.

Kini, berbagai produk Dcraft Indonesia tak hanya menjadi langganan korporasi untuk kegiatan mereka. Dengan 15 karyawan aktif, termasuk 10 perajin lokal di Jawa Timur, produk yang berawal dari hobi itu juga sudah merambah pasar internasional. Beberapa kali produk mereka dibeli konsumen dari luar negeri, mulai Malaysia, Singapura, Korea, Belanda, hingga Inggris, meski dalam jumlah yang belum terlalu banyak. Dalam sebulan, omzet UMKM itu bahkan telah mencapai Rp 200 juta.

Bagi Dewi, perjalanan produk miliknya itu bukan hanya lahir dari kreativitas. Di sisi lain, banyak dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak dalam bentuk pembinaan, pameran, hingga kesempatan memperluas pemasaran.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |