BRIN Dokumentasikan Sepuluh Spesies Anggrek Baru di Indonesia

3 days ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra peneliti telah berhasil mendokumentasikan sepuluh spesies anggrek baru di Indonesia. Penemuan ini menekankan pentingnya eksplorasi biodiversitas dan kajian herbarium dalam mendukung konservasi flora di Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia, khususnya kawasan Wallacea dan wilayah timur, masih memiliki potensi keanekaragaman anggrek yang belum terdokumentasi," kata Aninda Retno Utami Wibowo, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Aninda menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan sejumlah tim, termasuk dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Universitas Samudra, dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Tim mendokumentasikan sepuluh spesies anggrek baru yang sebelumnya belum tercatat di Indonesia, antara lain Bulbophyllum nematocaulon, Bulbophyllum sanguineomaculatum, Cleisomeria lanatum, Corybas calopeplos, dan Corybas holttumii dari Sumatra; Acanthophippium bicolor dan Anoectochilus papuanus dari Jawa; Dendrobium teretifolium dari Kepulauan Nusa Tenggara; Bulbophyllum thiurum dari Kalimantan; serta Aerides augustiana dari Sulawesi.

Penelitian dilakukan melalui eksplorasi lapangan oleh Yuda Rehata Yudistira dari Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara dan Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, serta Wendy A. Mustaqim dari Departemen Biologi Universitas Samudra, dalam periode 2020 hingga 2024 di berbagai wilayah Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

"Tim peneliti melakukan pengambilan spesimen, dokumentasi morfologi, pengawetan herbarium, serta analisis perbandingan dengan koleksi herbarium nasional dan internasional," ujar Aninda.

Aninda juga menyebutkan bahwa beberapa spesies yang ditemukan menunjukkan pola persebaran yang menarik secara biogeografi. Misalnya, Anoectochilus papuanus yang sebelumnya hanya ditemukan di Papua dan Kepulauan Solomon, kini juga tercatat di Jawa Timur. Sementara Dendrobium teretifolium yang asalnya dari Australia, kini ditemukan di Nusa Tenggara Timur.

Aninda berharap hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penting bagi upaya konservasi flora Indonesia, terutama di kawasan yang masih kurang tereksplorasi. "Dokumentasi spesies yang akurat diperlukan untuk mendukung perlindungan habitat serta penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah," tambahnya.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Lankesteriana Volume 26 (1) Tahun 2026 melalui artikel berjudul "Ten New Orchid Records from the Indonesian Archipelago".

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |