REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bio Farma (Persero) resmi meluncurkan Bio-TCV (Typhoid Conjugate Vaccine), vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang ditujukan untuk membantu mencegah demam tifoid. Peluncuran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian Indonesia dalam penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin nasional.
Grand Launching Bio-TCV yang mengusung tema Sinergi Akademisi dan Industri untuk Kedaulatan Vaksin Nasional digelar sebagai rangkaian Medical Expo Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 2026.
Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan demam tifoid sebagai negara endemis. Karena itu, pencegahan penyakit tersebut memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari vaksinasi hingga perbaikan sanitasi, keamanan pangan, akses air bersih, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
"Bio Farma menghadirkan Bio-TCV sebagai bagian dari kontribusi kami dalam mendukung pencegahan demam tifoid sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi jangka panjang bersama International Vaccine Institute (IVI) yang dimulai sejak 2010, dilanjutkan dengan transfer teknologi pada 2013, serta melalui proses riset, pengembangan, uji klinis bersama FKUI hingga memperoleh persetujuan regulator," ujar Shadiq.
Menurut dia, Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, transfer teknologi, uji klinis, hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin.
Bio-TCV merupakan vaksin tifoid konjugat yang dikembangkan untuk membantu mencegah demam tifoid akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin tersebut dapat diberikan kepada anak mulai usia enam bulan hingga orang dewasa sesuai indikasi yang telah memperoleh persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menunjukkan terdapat sekitar 9 juta kasus demam tifoid setiap tahun di dunia dengan sekitar 110 ribu kematian. Di Indonesia, prevalensi tifoid diperkirakan mencapai 1,6 persen dari populasi dengan angka kejadian sekitar 148,7 per 100.000 penduduk.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan kemandirian dalam penelitian, pengembangan, dan produksi produk kesehatan strategis menjadi bagian penting dari penguatan ketahanan kesehatan nasional.
"Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk mempercepat lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Indonesia masih menghadapi beban kasus tifoid yang tinggi sehingga membutuhkan solusi pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Kehadiran Bio-TCV menunjukkan bahwa melalui sinergi yang kuat, kita mampu memperkuat kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional," katanya.
Pengembangan Bio-TCV merupakan hasil kolaborasi Bio Farma dengan International Vaccine Institute (IVI) sejak 2010 yang diperkuat melalui transfer teknologi pada 2013. Bio Farma juga bekerja sama dengan FKUI-RSCM dalam pelaksanaan uji klinis fase I, II, dan III sesuai standar ilmiah, etik, dan regulasi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya kemampuan Indonesia memproduksi vaksin di dalam negeri agar tidak bergantung pada pasokan global saat terjadi krisis kesehatan.
"BPOM mendampingi seluruh proses pengembangan Bio-TCV, mulai dari uji klinis, standardisasi, proses produksi, hingga evaluasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat vaksin. Proses evaluasi regulatori juga dilakukan secara dipercepat tanpa mengurangi standar ilmiah yang berlaku," ujar Taruna.
Bio Farma menyatakan akan terus memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan produksi vaksin nasional, termasuk meningkatkan fasilitas produksi vaksin berbasis teknologi konjugasi. Perusahaan juga menargetkan perluasan pasar melalui proses WHO Prequalification serta registrasi di berbagai negara sehingga Bio-TCV dapat berkontribusi dalam pencegahan tifoid di negara-negara dengan beban penyakit yang tinggi.
.png)
8 hours ago
2
















































