REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak lebih hidup menjelang masa angkutan Lebaran. Hidup dalam arti, penumpang di Terminal 1 dan Terminal 3 lalu-lalang membawa koper, sebagian duduk menunggu panggilan boarding, sementara dekorasi bernuansa Ramadan menghiasi sejumlah sudut terminal.
Di antara para penumpang yang bersiap terbang, Hari (30 tahun) tampak santai menunggu penerbangan. Pria asal Padang, Sumatera Barat, yang bekerja sebagai event organizer ini mengaku hampir setiap tahun pulang kampung menggunakan pesawat. Namun tahun ini ia memilih berlibur dibanding pulang ke kampung halaman.
Meski begitu, Hari tetap merasakan perubahan yang cukup signifikan pada bandara dari tahun ke tahun.
Menurut dia, proses di bandara kini terasa semakin mudah. Pelayanan juga dinilai semakin baik, mulai dari alur pemeriksaan hingga fasilitas yang tersedia bagi penumpang.
“Sekarang bandara jauh lebih nyaman. Prosesnya lebih mudah, pelayanannya juga semakin baik. Tempat menunggu juga makin bagus,” kata Hari.
Ia mengakui harga tiket pesawat masih menjadi tantangan bagi sebagian penumpang. Namun bagi banyak orang, keinginan untuk pulang kampung sering kali lebih besar dari persoalan biaya.
“Kalau sudah soal pulang kampung, biasanya tetap diusahakan,” ujarnya sambil tersenyum.
Pengalaman masa lalu
Cerita serupa datang dari Yuliati, pekerja migran asal Tuban, Jawa Timur, yang bekerja di Changhua, Taiwan. Perempuan ini sudah hampir dua dekade bekerja di luar negeri sejak 2007.
Ia biasanya pulang ke Indonesia dua kali dalam setahun, terutama saat Lebaran atau ketika ada acara keluarga penting.
Namun pengalaman pertamanya kembali ke Tanah Air melalui bandara sempat meninggalkan kesan kurang menyenangkan.
“Dulu pernah kena calo,” kata Yuliati mengenang pengalamannya beberapa tahun lalu.
Kini kondisi tersebut menurutnya sudah jauh berbeda. Bandara dinilai lebih tertib, bersih, dan nyaman bagi penumpang.
“Sekarang jauh lebih baik. Tidak ada lagi calo yang aneh-aneh. Bandara juga lebih bersih dan nyaman,” ujarnya.
Yuliati berharap kualitas pelayanan di bandara terus meningkat sehingga perjalanan pulang bagi pekerja migran seperti dirinya dapat berlangsung lebih nyaman.
“Semoga yang sudah baik ini bisa terus ditingkatkan,” katanya.
Terminal modern berstandar internasional
Penilaian positif juga disampaikan Amelia (28), pekerja migran asal Jawa Tengah. Setiap kali pulang ke Indonesia, ia kerap menunggu penerbangan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Menurutnya, fasilitas di terminal tersebut sangat memadai bagi penumpang yang harus menunggu lama sebelum keberangkatan.
“Terminal 3 sangat nyaman. Saya tidak pernah menemukan ada calo atau hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Amelia bahkan menilai fasilitas di bandara Indonesia kini dapat dibandingkan dengan sejumlah bandara internasional yang pernah ia gunakan selama bekerja di luar negeri.
“Lokasinya nyaman, aman, dan menurut saya sudah bisa dibandingkan dengan bandara internasional di tempat saya bekerja,” katanya.
Kenyamanan yang dirasakan penumpang tersebut tidak lepas dari berbagai persiapan yang dilakukan pengelola bandara menghadapi masa angkutan Lebaran.
Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, bersama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) memastikan kesiapan operasional dan layanan di 37 bandara yang dikelola selama periode angkutan Lebaran 2026 yang berlangsung pada 13–30 Maret.
Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan momentum Lebaran menjadi periode dengan lalu lintas tertinggi di seluruh ekosistem bisnis InJourney.
“Kami melihat pergerakan yang sangat positif, khususnya dari pasar domestik yang tahun ini menjadi fokus utama. Harapannya momentum ini dapat berjalan lancar sekaligus mendorong pertumbuhan kinerja di seluruh ekosistem,” ujar Maya.
Ia menambahkan, InJourney menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama dalam setiap layanan, mulai dari operasional bandara hingga fasilitas ritel dan destinasi wisata.
Untuk mendukung hal tersebut, bandara disiagakan beroperasi hingga 24 jam mengikuti kebutuhan maskapai. Selain itu, jumlah personel layanan juga ditambah selama periode puncak arus mudik dan arus balik.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi menyebutkan jumlah pergerakan penumpang pesawat selama angkutan Lebaran tahun ini diproyeksikan mencapai sekitar 9,03 juta penumpang.
“Angkutan Lebaran merupakan periode tersibuk sepanjang tahun. Oleh karena itu, seluruh bandara disiagakan untuk mengakomodasi peningkatan trafik termasuk penerbangan tambahan,” kata Pahlevi.
Sejumlah bandara dengan trafik tertinggi pada periode ini antara lain Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Juanda Surabaya, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, serta Bandara Kualanamu di Deli Serdang.
Penerbangan tambahan untuk arus balik
Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat setelah Lebaran, InJourney Airports bersama maskapai juga menyiapkan penerbangan tambahan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang pada arus balik.
Pada 22 Maret 2026, tercatat pergerakan penumpang di 37 bandara mencapai 468.604 penumpang dengan 3.265 penerbangan. Angka ini meningkat menjadi 536.109 penumpang dengan 3.636 penerbangan pada 23 Maret, dan kembali naik menjadi 583.815 penumpang pada 24 Maret.
Pahlevi mengatakan peningkatan tersebut diantisipasi dengan optimalisasi slot time agar maskapai dapat menambah jadwal penerbangan.
“Seluruh bandara diproyeksikan melayani sekitar sembilan juta penumpang selama angkutan Lebaran ini,” ujarnya.
Selain penerbangan reguler, sekitar 2.400 penerbangan tambahan telah dioperasikan selama periode 13–21 Maret 2026.
Nuansa ramadan
Selain memastikan kelancaran operasional, bandara juga menghadirkan berbagai program aktivasi untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih berkesan bagi penumpang.
Sejumlah kegiatan seperti parade bedug, pertunjukan musik bernuansa Ramadan, pembagian takjil, hingga pemberian hampers Lebaran digelar di beberapa bandara.
Di Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, pengelola menghadirkan instalasi tematik berupa kubah besar di Terminal 3 yang memadukan motif batik Nusantara dengan arsitektur Timur Tengah. Area tersebut dilengkapi tanaman hidup, panggung aktivitas, serta dekorasi lentera yang memperkuat suasana Ramadan.
Bagi sebagian penumpang, perubahan tersebut membuat bandara kini tidak sekadar menjadi tempat transit sebelum terbang.
Hari, misalnya, merasakan bahwa pengalaman berada di bandara kini jauh lebih nyaman dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Sekarang kalau menunggu di bandara tidak terasa membosankan,” katanya.
.png)
13 hours ago
4

















































