Kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke USS Frank E Peterson yang dihalau Iran di Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pentagon mengungkap data terbaru soal biaya yang telah digelontorkan Amerika Serikat (AS) dalam perang melawan Iran. Angkanya mencapai 29 miliar dolar atau setara Rp508 triliun (dengan kurs Rp17.500 per dolar AS). Jumlah tersebut meningkat 4 miliar dolar jika dibandingkan dengan data yang dirilis Pentagon sebelumnya.
Dalam sidang anggaran yang digelar di Capitol Hill, Selasa (12/5/2026), Kepala Keuangan Pentagon Jules Hurst ditanya tentang biaya yang sudah dihabiskan Pemerintah AS dalam perang melawan Iran. Hurst mengakui pada kesaksian awal, angka yang disampaikannya yakni 25 miliar dolar (Rp 437,5 triliun).
"Namun, tim staf gabungan dan tim pengawas keuangan terus-menerus meninjau perkiraan itu, dan sekarang kami pikir itu lebih dekat ke 29 miliar dolar," ungkap Hurst mengutip pembaruan biaya perbaikan dan penggantian peralatan serta pengeluaran operasional yang lebih luas, seperti dilaporkan Anadolu Agency, Selasa (12/5/2026).
Anggota Kongres dari Partai Demokrat mempertanyakan perhitungan Pentagon. Hal itu mengingat dalam pertemuan pada 30 April 2026 lalu, Pentagon menyampaikan bahwa biaya yang telah dikucurkan untuk perang melawan Iran adalah 25 miliar dolar.
Menurut anggota Kongres dari Partai Demokrat, biaya sesungguhnya, termasuk kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Iran, bisa jauh lebih tinggi. "Pertanyaan yang harus dijawab pada akhirnya adalah, apa yang telah kita capai dan berapa biayanya?" tanya Rosa DeLauro, pemimpin Partai Demokrat di Komite Alokasi Anggaran DPR AS.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut menghadiri rapat pembahasan anggaran di Capitol Hill pada Selasa. Dia sempat ditanya soal kapan Pentagon akan memberikan laporan lengkap soal berapa biaya yang sudah dihabiskan untuk kebutuhan perang melawan Iran. Namun, Hegseth tak memberikan tenggat waktu.
Hegseth juga menolak memberikan perkiraan soal nilai kerugian materiil yang ditanggung AS akibat serangan Iran. Dia mengalihkan fokus dengan menyampaikan bahwa harga yang harus dibayar AS akan lebih mahal jika Iran memiliki senjata nuklir.
Selain itu, Hegseth menepis peringatan bahwa konflik dengan Iran telah menguras cadangan amunisi AS secara drastis. "Masalah amunisi telah dibesar-besarkan secara bodoh dan tidak membantu. Kita tahu persis apa yang kita miliki. Kita memiliki banyak yang kita butuhkan," ujarnya.
.png)
1 day ago
8















































