REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengonfirmasi telah menempatkan senjata di luar angkasa, yang memicu peringatan terpisah dari China dan Rusia.
Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengatakan dalam Air and Space Cyber Conference di Maryland, Senin, bahwa Amerika Serikat telah mengoperasikan “senjata kendali ruang angkasa di orbit yang mampu mempertahankan Joint Force dari tindakan musuh.”
Meink tidak menjelaskan secara rinci jenis senjata tersebut maupun cara kerjanya. Pada 2024, Amerika Serikat mengatakan Rusia tengah mengembangkan senjata antisatelit baru yang dapat diluncurkan dari luar angkasa. Saat itu, Gedung Putih mengatakan ancaman tersebut belum bersifat segera.
Namun, laporan mengenai senjata antisatelit itu mencerminkan kekhawatiran yang telah berlangsung lama mengenai ancaman luar angkasa dari Rusia dan China, mengingat sebagian besar infrastruktur Amerika Serikat bergantung pada komunikasi satelit.
Dalam pernyataannya, Meink juga mengatakan Angkatan Udara AS tengah menambah lebih banyak sistem otonom ke dalam kemampuan militernya. Ia memperkirakan Angkatan Udara akan terlihat “sangat berbeda” pada 2032.
Sebagai contoh, ia memperkirakan drone serang satu arah akan menggantikan artileri sebagai “penghancur utama”.
“Kami meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman yang ada,” kata Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink, sebagaimana dilaporkan CBS News, Selasa, 15 September 2026.
Meink juga mengatakan kecerdasan buatan (AI) “bersaing dengan sejumlah programmer, operator siber, dan peretas terbaik di dunia. Teknologi-teknologi ini merevolusi medan perang. Teknologi tersebut memungkinkan negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki sumber daya untuk dengan cepat beradaptasi dan meningkatkan kemampuan tempur mereka.”
Karena itu, menurut Meink, militer Amerika Serikat “harus meningkatkan kekuatan tempur dan berinovasi lebih cepat daripada siapa pun, dengan biaya yang terjangkau.” Presiden Donald Trump membentuk Space Force pada 2019.
China dan Rusia Keluarkan Peringatan
China pada Selasa memperingatkan agar luar angkasa tidak diubah menjadi “medan perang”. Rusia juga menyatakan ruang angkasa harus “bebas dari segala jenis senjata” setelah Amerika Serikat mengonfirmasi telah menempatkan persenjataan di orbit di atas Bumi.
Para analis mengatakan pengungkapan Washington tersebut pada dasarnya mengonfirmasi sesuatu yang telah lama menjadi rahasia umum. Namun, waktu pengumuman itu dinilai berisiko memperburuk ketegangan dengan Beijing sekaligus meningkatkan risiko perlombaan senjata di luar angkasa.
Kementerian Luar Negeri China menentang langkah tersebut dan memperingatkan bahaya “militerisasi luar angkasa, mengubahnya menjadi medan perang, serta perlombaan senjata di sana.”
“Kami mendesak pihak AS untuk menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers, sebagaimana dilaporkan Channel NewsAsia (CNA), Selasa, 15 September 2026.
Rusia pada Selasa menyerukan agar luar angkasa tetap “bebas dari segala jenis senjata”. “Kami mengharapkan konsolidasi internasional yang luas untuk terus bekerja menuju demiliterisasi penuh ruang angkasa,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Apa Kemampuan yang Dimiliki AS?
Pernyataan Amerika Serikat tidak memberikan rincian konkret mengenai jenis senjata yang telah ditempatkan di luar angkasa maupun jumlahnya.
“Pengendalian ruang angkasa mencakup bidang-bidang misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain ruang angkasa—dengan menggunakan sarana kinetik dan nonkinetik untuk memengaruhi kemampuan lawan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
“Kemampuan ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif maupun defensif,” tambahnya.
Sarana nonkinetik dapat mencakup penggunaan laser untuk membutakan satelit, atau bahkan gangguan elektromagnetik maupun serangan siber terhadap jaringan komunikasi data satelit.
.png)
8 hours ago
4
















































