Fauzan Basyir
Edukasi | 2026-07-04 13:37:40
Oleh Fauzan Fahmi Basyir
Guru merupakan profesi yang paling mulia karena memiliki tugas utama untuk mencerdaskan anak-anak generasi baru. Selain mencerdaskan, peran guru juga sangat krusial dalam mendidik karakter dan sikap siswa demi masa depan mereka. Sayangnya, di tengah tanggung jawab yang besar ini, masih ada saja guru yang tidak bertanggung jawab dalam memenuhi kewajibannya di sekolah. Oknum tersebut kerap masuk ke kelas hanya untuk memberikan tugas lalu pergi, atau bahkan sengaja membuat jam kosong tanpa alasan yang jelas.
Esensi Kehadiran Guru di Kelas
Bagi sebagian siswa, kehadiran jam kosong mungkin terasa menyenangkan karena rutinitas sekolah dari pagi hingga sore sangat menguras energi. Namun, jika rutinitas sekolah yang tidak efektif ini terus dibiarkan berlanjut, mimpi besar Indonesia untuk mencapai generasi emas 2045 tidak akan pernah tercapai. Kegagalan mencapai generasi emas tersebut berakar dari terhambatnya proses belajar siswa akibat ketiadaan figur pendidik di kelas. Padahal, setiap siswa memiliki proses belajar dan karakteristik yang unik; ada yang bisa memahami materi secara mandiri, tetapi tidak sedikit pula yang harus dibimbing secara langsung. Bimbingan secara langsung dari pendidik inilah yang sebenarnya menjadi esensi utama dari sekolah formal, sebab mesin mencari seperti Google sekalipun tidak akan bisa menggantikan sentuhan emosional seorang guru saat memotivasi muridnya yang sedang kesulitan memahami pelajaran.
Pentingnya Praktik Langsung dalam Pembelajaran
Selain kehadiran fisik, cara mengajar dari seorang pendidik juga memegang kendali penuh terhadap keberhasilan kelas. Cara mengajar yang terlalu teoretis atau bahkan terlalu rumit sering kali membuat materi sulit dicerna oleh sebagian besar siswa. Oleh karena itu, proses transfer ilmu tidak boleh hanya sekadar membaca buku, melainkan harus dikombinasikan dengan metode praktik langsung. Melalui praktik langsung, siswa akan mendapatkan pengalaman kontekstual yang membuat mereka jauh lebih mudah memahami esensi dari pelajaran tersebut. Kebutuhan akan praktik langsung ini menuntut sekolah dan pemerintah untuk lebih prograsif dalam memfasilitasi pelatihan metode mengajar bagi para guru. Pemerintah tidak boleh hanya menuntut kualitas pengajaran meningkat tanpa memberikan workshop atau pelatihan berkala yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan psikologi remaja zaman sekarang.
Kesejahteraan sebagai Kunci Profesionalisme
Di sisi lain, tuntutan kualitas profesionalisme ini sering kali berbenturan dengan isu kesejahteraan guru yang masih minim di negara kita. Rendahnya tingkat kesejahteraan guru ini cukup ironis, mengingat mereka adalah aset paling berharga untuk menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Kita bisa mencontoh negara Jepang yang pasca-tragedi bom atom Nagasaki dan Hiroshima, hal pertama yang paling diburu oleh pemerintahnya adalah jumlah guru yang tersisa. Hasil dari investasi besar-besaran terhadap guru tersebut terbukti nyata, di mana Jepang kini bertransformasi menjadi salah satu negara tersubur dalam inovasi dan teknologi di dunia.
Indonesia seharusnya bisa mencontoh langkah Jepang dalam memuliakan dan menjamin kehidupan para pendidik. Ketika kehidupan para pendidik sudah sejahtera, maka fokus mereka dalam mengajar dan menanamkan nilai moral tidak akan terpecah. Hal ini penting karena tantangan zaman sekarang menunjukkan bahwa nilai moral atau adab siswa kepada gurunya kian mengalami kemunduran. Banyak siswa yang hanya bersikap hormat di depan, tetapi justru menjelek-jelekkan gurunya di belakang akibat krisis nilai moral tersebut.
Mengembalikan Adab Sebagai Fondasi Utama
Fenomena krisis karakter ini terjadi karena kurangnya penanaman ilmu adab yang terstruktur dari lingkungan rumah maupun sekolah. Padahal, seorang siswa yang kehilangan ilmu adab tidak akan pernah bisa dihargai oleh sesamanya di masa depan, mau sekaya atau sepintar apa pun dia. Hilangnya penghargaan dari sesama manusia ini tentu akan menjadi kerugian besar bagi masa depan anak tersebut di dunia kerja maupun kehidupan sosial. Maka dari itu, institusi sekolah di tingkat SD, SMP, hingga SMA harus menempatkan ilmu adab sebagai fondasi utama di atas nilai akademik. Penerapan ilmu adab ini tidak boleh sekedar menjadi pajangan di dalam buku Pendidikan Pancasila atau Agama, melainkan harus diintegrasikan ke dalam system poin pelanggaran sekolah, penilaian rapor karakter, serta dicontohkan langsung lewat perilaku para guru sehari-hari. Bagaimanapun juga, karakter dan integritas yang baik adalah kunci paling krusial untuk menjamin kesuksesan hakiki seorang manusia sekaligus fondasi utama kemajuan bangsa.
Mari kita berhenti sejenak untuk mengapresiasi guru-guru kita, namun lebih jauh lagi, mari kita dorong kebijakan yang benar-benar memuliakan pendidik demi masa depan bangsa yang lebih cerah
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
6 hours ago
2





































