1.000 Peserta BPJS Nonaktif Tetap Bisa Berobat Lewat Bantuan RSA UGM, Pasien HD & Kanker Prioritas

4 hours ago 2

Direktur Utama RSA UGM, Darwito bersama Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sleman, Irfan Qadarusman dalam acara penandatangan kerjasama penambahan kuota program bantuan iuran dan teknis pendaftaran peserta dengan BPJS Kesehatan Sleman, Rabu (13/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menyiapkan bantuan pembayaran iuran BPJS Kesehatan bagi 1.000 peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang kepesertaannya nonaktif. Program ini diprioritaskan untuk pasien dengan tiga penyakit berat, yakni hemodialisa (HD), jantung, dan kanker, agar mereka tetap bisa melanjutkan pengobatan tanpa terhambat status kepesertaan BPJS.

Direktur Utama RSA UGM, Darwito mengatakan program tersebut merupakan bentuk partisipasi rumah sakit untuk membantu pasien yang terdampak penonaktifan kepesertaan JKN. RSA UGM bahkan menyiapkan anggaran sekitar Rp 35 juta per bulan untuk membayar iuran para peserta yang dibantu.

"Sebanyak 1.000 jiwa yang kita akan bantu untuk bayar iurannya karena diputus, tapi terutama adalah pasien-pasien yang sudah mengalami HD karena diputus kan kasihan (tidak bisa melanjutkan pengobatannya -Red)," ujarnya dijumpai di RSA UGM seusai penandatangan kerja sama penambahan kuota program bantuan iuran dan teknis pendaftaran peserta dengan BPJS Kesehatan Sleman, Rabu (13/5/2026).

Selain pasien HD, RSA UGM juga akan memprioritaskan pasien jantung yang sudah menjalani pemasangan ring serta pasien kanker yang membutuhkan terapi jangka panjang. Menurut Darwito, ketiga kelompok pasien tersebut memiliki risiko tinggi apabila pengobatannya terhenti akibat status BPJS nonaktif.

"Harapan masyarakat bisa melanjutkan terapinya sehingga mortalitas dan morbiditasnya bisa sesuai dengan yang kita harapkan," katanya.

Darwito menyampaikan program ini sementara diprioritaskan untuk masyarakat di wilayah Sleman. Namun RSA UGM membuka peluang bantuan juga diberikan kepada pasien dari daerah lain yang sudah menjalani pengobatan di RSA UGM, seperti Kota Yogyakarta, Bantul, Kulon Progo hingga Gunungkidul nantinya.

Ia menekankan program tersebut bukan bagian dari bisnis rumah sakit, melainkan bentuk kepedulian sosial yang dijalankan melalui efisiensi di berbagai sektor internal RSA UGM. "Iya, yang bayar (iuran) RSA UGM. Makanya ini teman-teman juga nanti dengan apakah kita menggali dan lain-lain atau mungkin efisiensi di sektor-sektor lain yang kita bisa sumbangkan untuk teman-teman yang memang kurang beruntung," ujarnya.

Kerja sama program ini dilakukan bersama BPJS Kesehatan, terutama dalam penyediaan data peserta nonaktif yang layak dibantu. RSA UGM nantinya akan memilah data tersebut untuk menentukan pasien prioritas penerima bantuan.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |