REPUBLIKA.CO.ID,INDRAMAYU – Aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan petambak yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi) di depan Pendopo Indramayu pada Kamis (3/4/2026) kemarin, berakhir ricuh. Sejumlah fasilitas umum yang ada di Alun-alun Indramayu, yang berada dalam satu kawasan dengan Pendopo Indramayu, menjadi sasaran pengrusakan oleh sejumlah oknum pengunjuk rasa.
Kericuhan itu sebagai buntut kekecewaan para pengunjuk rasa yang tidak ditemui oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim. Padahal, mereka sudah melakukan aksi selama beberapa jam dan menghendaki untuk menyampaikan aspirasinya langsung kepada bupati.
Dalam aksi itu, para petambak menolak revitalisasi tambak pantura karena membuat mereka terancam kehilangan mata pencaharian. Di Kabupaten Indramayu, revitalisasi yang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu menyasar 2.200 hektare tambak, yang selama puluhan tahun digarap oleh ribuan petambak.
Namun, sejak dimulainya aksi pada pagi hari hingga jelang Dzuhur, bupati tak kunjung menemui warganya tersebut. Massa akhirnya membubarkan diri. Saat itulah, sejumlah oknum massa melakukan pengrusakan terhadap fasilitas umum yang ada di Alun-alun Indramayu sebagai bentuk kekecewaan.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, kemudian memberikan respon terhadap aksi pengrusakan tersebut. Ia sangat menyayangkan rusaknya fasilitas umum yang telah dibangun dengan menggunakan uang rakyat.
“Kerusakannya lumayan banyak, hampir Rp 100 juta. Itu adalah uang rakyat, tapi dirusak. Tulisan ‘Indramayu’ nya pun dirusak,” ucap Lucky di Pendopo Indramayu, Jawa Barat, Kamis (2/4/2026) malam.
Lucky pun menjelaskan, revitalisasi tambak pantura merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dijalankan Pemerintah Pusat. Menurut dia, Pemkab Indramayu tidak berwenang untuk menghentikan proyek tersebut.
.png)
12 hours ago
3















































