Teknologi Otomasi Air dan Pakan Tingkatkan Produktivitas Peternak Lele di Bandung Barat

13 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT - Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI) dan Politeknik Manufaktur Bandung mendorong modernisasi budidaya perikanan air tawar melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk 'Optimalisasi Pengelolaan Kolam Lele melalui Pemanfaatan Teknologi Otomasi Air dan Pakan pada Peternak Lele di Bandung Barat'. Program ini dilaksanakan atas kolaborasi dosen ULBI, yakni Cahyo Prianto dan Rukmi Juwita, bersama dosen Politeknik Manufaktur Bandung, M. Harry Khomas Saputra.

Kegiatan PKM bermitra dengan Kelompok Tani Ternak Tunas Mekar yang berlokasi di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Program ini memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026.

Tantangan Konvensional Budidaya Lele

Tim pelaksana menjelaskan ikan lele merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan karena memiliki siklus produksi yang relatif singkat, mudah beradaptasi dengan lingkungan, serta mampu menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat. Pada skala rumah tangga hingga UMKM, budidaya lele juga berperan penting sebagai sumber pendapatan, pencipta lapangan kerja, dan penggerak ekonomi lokal.

Namun, pengelolaan kolam pada mitra masih didominasi metode konvensional dan manual, terutama dalam pengaturan kualitas air serta pemberian pakan. Sistem tersebut menyebabkan pengawasan kolam kurang optimal dan berdampak pada tingginya tingkat kematian ikan lele menjelang masa panen, yang diperkirakan mencapai sekitar 20 persen.

Sebagai solusi, tim PKM mengembangkan dan mengimplementasikan dua perangkat otomasi, yaitu Automatic Water Exchange System (AWES) dan Automatic Feeding System (AFS).

AWES dirancang untuk melakukan pergantian air kolam secara otomatis berdasarkan pembacaan sensor ketinggian air, sensor suhu, dan sensor pH. Sistem ini memungkinkan kualitas air tetap berada pada kondisi ideal bagi pertumbuhan ikan lele.

Sementara itu, AFS berfungsi untuk memberikan pakan secara otomatis dengan memperhitungkan biomassa dan usia ikan lele, sehingga jumlah pakan yang diberikan menjadi lebih tepat dan efisien.

Kedua perangkat tersebut terintegrasi dalam sebuah dashboard pengendali yang dapat digunakan langsung oleh anggota kelompok tani untuk memantau kondisi kolam dan mengontrol operasional alat secara lebih mudah dan terukur.

Program PKM ini mulai dilaksanakan dari bulan Juni hingga desember 2026. Kegiatan dimulai dari sosialisasi, pelatihan penggunaan dan penerapan teknologi, serta pendampingan dan keberlanjutan kegiatan.

Pada Juni 2026 dilakukan penebaran 3.000 benih lele sebagai tahap awal budidaya. Hingga saat ini, proses implementasi perangkat telah selesai dilakukan dengan hasil yang cukup menggemberikan dimana dengan alat tersebut tingkat kematian ikan lele jauh berkurang, sehingga jumlah panenpun dapat meningkat.

Ketua tim pelaksana, Cahyo Prianto mengatakan penerapan teknologi otomasi tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperkenalkan pendekatan budidaya berbasis data dan pemantauan real time kepada peternak skala kecil.

“Teknologi ini diharapkan mampu membantu peternak menjaga kualitas air dan ketepatan pemberian pakan secara konsisten sehingga produktivitas meningkat dan risiko kematian ikan dapat ditekan,” ujarnya.

Inovasi AWES–AFS dinilai sebagai bentuk rekayasa sistem yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan produksi pangan berbasis perikanan. Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya mengurangi kemiskinan dan kelaparan.

Melalui peningkatan stabilitas produksi lele, masyarakat diharapkan memperoleh akses yang lebih baik terhadap sumber protein hewani yang sehat, cukup, dan berimbang. Efisiensi produksi yang meningkat juga berpotensi memperkuat keberlanjutan sistem pangan lokal di wilayah Bandung Barat.

Selain itu, keberhasilan penerapan teknologi ini diproyeksikan dapat meningkatkan pendapatan peternak, membuka peluang kerja baru, serta memperkuat daya saing UMKM sektor perikanan.

Dosen Politeknik Manufaktur Bandung, M. Harry Khomas Saputra mengatakan integrasi sensor, otomasi, dan dashboard monitoring merupakan langkah penting dalam transformasi budidaya lele dari pola tradisional menuju usaha berbasis teknologi. Dengan adanya sistem tersebut, peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pengamatan manual, melainkan dapat mengambil keputusan berdasarkan indikator kondisi kolam yang terukur.

Program kolaboratif antara ULBI dan Politeknik Manufaktur Bandung ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi tepat guna yang dapat direplikasi pada kelompok budidaya lele lainnya di berbagai daerah. Penerapan AWES dan AFS membuka peluang lahirnya ekosistem budidaya perikanan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |