Saham-saham konsumer pada enam bulan pertama 2025 masih menjadi pemberat alias laggard bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Saham-saham konsumer pada enam bulan pertama 2025 masih menjadi pemberat alias laggard bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: iNews Media Group)
IDXChannel - Saham-saham konsumer pada enam bulan pertama 2025 masih menjadi pemberat alias laggard bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Tekanan harga membuat saham di sektor defensif ini patut dilirik.
Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, investor institusional masih menyukai saham-saham konsumer. Namun, investor perlu selektif karena kinerja emiten di sektor ini berbeda-beda.
"Stance (posisi) kami adalah untuk consumer staples, kami suka. Jadi kami melihat itu, meskipun mungkin dari beberapa nama yang kami cover, tidak semua kami masukkan ke dalam most preferred list juga, karena memang kalau kita lihat kinerjanya di beberapa emiten itu berbeda-beda," kata Joezer dalam Mandiri Economic Outlook Q3 2025, Kamis (28/8/2025).
Sektor consumer terbagi menjadi dua, yaitu barang konsumsi non-siklis (Consumer Non-Cyclicals) seperti UNVR dan ICBP dan barang konsumsi siklis (Consumer Cyclicals) seperti ERAA dan ACES. Kinerja kedua sektor tersebut masing-masing minus 8,07 persen dan 14,03 persen hingga Juni 2025.
Joezer mengatakan, saham-saham barang konsumsi non-siklis berpotensi terpengaruh oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan bantuan sosial (bansos). Namun, investor perlu selektif karena sebagian emiten juga terdampak kenaikan bahan baku yang memengaruhi margin.