Petani Jadi 'Nelayan' di Situ Ciburuy, Kala Kemarau Jadi Berkah untuk Mereka

2 hours ago 1

Wahyudin menunjukkan hasil tangkapan ikan di Situ Ciburuy.

REPUBLIKA.CO.ID, Matahari bersinar terik membakar kulit Wahyudin (49 tahun) yang mulai mengeriput dimakan waktu. Ia menggenggam sebuah jala yang siap dilemparkan di tengah Situ Ciburuy di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat untuk menangkap ikan.

Pria asal Kampung Sadang, RT 02, RW 17, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang itu sedang berburu ikan pada Ahad (25/7/2026). Air di Situ Ciburuy yang menyusut imbas musim kemarau menjadi kesempatan bagi Wahyudin dan warga lainnya untuk mendapat hasil tangkapan ikan.

Tanda menyusutnya debit air di situ buatan seluas 25 hektare yang dibangun akhir tahun 1800-an oleh seorang menir Belanda bernama Bempi atas titah Ratu Belanda Wilhemina itu terlihat dari hamparan daratan yang sudah terlihat. "Memang pas lagi nyusut airnya suka nyari ikat di Situ Ciburuy. Kalau musim ujan kan enggak bisa, airnya penuh," ujar Wahyudin kepada Republika.

Penyusutan debit air itulah yang dimanfaatkan Wahyudin dan warga setempat untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Sebab ikan menjadi lebih mudah ditangkap ketika airnya menyusut. Sehingga menjadi "nelayan" musiman selalu dilakoninya jika kemarau tiba.

Wahyudin biasanya memulai berburu ikan pukul 13.00 WIB berbekal jala atau jaring. Kali ini ia memilih untuk berjalan kaki menelusuri Situ Ciburuy, tidak menggunakan rakit. Sebab, airnya memang cukup dangkal bagi orang dewasa. Meskipun kedalamannya tidak merata.

"Sekarang kedalamannya udah turun, tapi beda-beda. Mungkin ada yang masih dalam juga. Tapi kalau yang biasa saya nyari ikan paling tingginya sampai pinggang masih bisa ngejala enggak pakai rakit," kata Wahyudin.

Kala cuaca mulai meredup pertanda matahari akan terbenam, Wahyudin pun beranjak dari air menuju tepian Situ Ciburuy. Ia menenteng koja berisi ikan hasil tangkapannya yang diperkirakan mencapai sekitar 5 kilogram.

Ikan hasil berburunya di Situ Ciburuy itu biasanya ia jual lagi seharga Rp 30 ribu per kilogram. Bagi Wahyudin, berburu ikan di musim kemarau ini cukup membantu kebutuhannya sehari-hari. Ia memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir tahun nanti.

Sehingga di sisa waktu ini, ia terus memanfaatkannya untuk mencari ikan-ikan segar yang bisa membantu perekonomian keluarganya. "Dapatnya kadang banyak, kadang sedikit. Tapi biasanya dijual lagi lumayan. Kalau biasanya saya petani," ujar Wahyudin.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |