Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Implikasi dari keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang dan memulai perang melawan Iran diibaratkan dalam laporan Raw Story, Rabu (11/3/2026) ikut menggoyang Gedung Putih saat para pejabat pemerintahan sempat berada pada mode panik mengetahui harga minyak dunia meroket hingga lebih dari 100 dolar AS per barel pada awal pekan ini.
Menurut Financial Times, Trump juga 'sangat marah' saat melihat harga minyak dunia sempat menyentuh 120 dolar AS per barel pada Senin. Info yang juga dikonfirmasi orang dalam Gedung Putih kepada Politico.
Kepanikan di Gedung Putih mengekspose sebuah kesalahan perhitungan mendasar dari pemerintahan AS saat ini. Para pejabat di pemerintahan Trump sepertinya tidak pernah mengantisipasi bahwa operasi militer di Timur Tengah akan mengirim pasar energi ke dalam kekacauan.
Namun, menurut seorang mantan pejabat di pemerintahan Trump mengatakan, diperlukan sebuah "pembacaan multipekan, konsisten" dari harga minyak sebelum pemerintahan ini menimbang ulang keputusan perang mereka. "Rotasi kecil sementara ini bukan hal yang akan dijadikan oleh mereka sebagai dasar kebijakan mereka," kata sumber itu, sembari mensinyalkan, lonjakan sementara harga minyak tidak akan mengubah keputusan militer.
Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia pada Senin lalu telah membuat kaget kalangan Gedung Putih. "Dalam momen terburuk malam itu, itu gila," kata seorang yang dekat dengan lingkaran Gedung Putih.
Alih-alih mengubah keputusan terkait agresi di Iran, pemerintahan Trump kemudian sibuk mengontrol dampak buruknya, memberikan jaminan kepada pialang minyak yang panik tentang stabilitas rantai pasok sembari menenangkan para politik Partai Republik yang cemas.
Dilaporkan, para anggota Kongres dari Partai Republik khawatir, perang Iran kontradiktif dengan pesan kampanye mereka di Pemilu Sela tahun ini, yakni soal meringankan biaya hidup. Sementara, kekhawatiran publik adalah hal yang substansial.
Menurut poling Quinnipiac, lebih dari 70 persen pemilih mengekspresikan kekhawatiran mereka bahwa perang akan mengerek harga minyak dan gas. Adapun, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menegaskan bahwa kenaikan harga minyak bersifat sementara, sambil menyebut pandangan Trump atas kenaikan harga minyak sebagai "disrupsi jangka pendek".
.png)
2 hours ago
1
















































