REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kebangkitan industri otomotif China mulai mengubah peta persaingan kendaraan global. Setelah bertahun-tahun didominasi produsen Eropa, pasar kini bergerak ke arah yang berbeda. Merek-merek mobil asal China terus memperbesar pangsa pasarnya di Eropa, memicu gelombang restrukturisasi di sejumlah produsen otomotif mapan.
Sebagaimana dilaporkan Financial Times pada Sabtu, 27 Juni 2026, pangsa pasar merek-merek mobil China di Eropa untuk pertama kalinya telah menembus 10 persen. Harian bisnis tersebut menyebut capaian tersebut sebagai tonggak penting yang mencerminkan pergeseran keseimbangan kekuatan industri otomotif global. Dalam laporan yang sama, sejumlah analis memperingatkan bahwa tren tersebut berpotensi mengurangi basis industri manufaktur Jerman secara permanen apabila terus berlanjut.
Lonjakan tersebut bukan semata-mata didorong harga kendaraan yang lebih murah. Produsen China seperti BYD, SAIC, Geely, Chery, hingga MG mampu menawarkan kendaraan listrik dengan teknologi yang kompetitif, fitur digital yang lengkap, serta siklus pengembangan produk yang jauh lebih cepat dibandingkan banyak produsen otomotif tradisional.
Keunggulan itu lahir dari ekosistem industri yang terintegrasi. China tidak hanya memproduksi kendaraan, tetapi juga menguasai sebagian besar rantai pasok penting, mulai dari baterai kendaraan listrik, pengolahan mineral kritis, komponen elektronik, hingga kapasitas manufaktur berskala besar. Integrasi tersebut memungkinkan produsen menekan biaya produksi sekaligus mempercepat inovasi.
Di sisi lain, produsen otomotif Eropa menghadapi tantangan yang semakin berat. Biaya energi yang tinggi, kenaikan ongkos tenaga kerja, serta kebutuhan investasi besar untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik membuat ruang untuk bersaing semakin sempit. Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai melakukan efisiensi dan penyesuaian kapasitas produksi.
Salah satu contoh yang paling menyita perhatian adalah Volkswagen. Sebagaimana dilaporkan Reuters pada Jumat, 26 Juni 2026, produsen otomotif terbesar Jerman itu tengah menyiapkan restrukturisasi besar yang antara lain mencakup rencana pengurangan tenaga kerja dan kemungkinan penutupan sejumlah pabrik di Jerman sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing. Reuters menyebut perusahaan menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan di Eropa sekaligus meningkatnya persaingan produsen mobil asal China.
Chief Executive Officer Volkswagen, Oliver Blume, juga mengakui bahwa industri otomotif sedang mengalami perubahan mendasar. Sebagaimana dikutip Reuters pada Jumat, 26 Juni 2026, ia menyatakan model bisnis perusahaan saat ini "tidak lagi layak dalam bentuknya sekarang untuk semua merek", sehingga transformasi besar tidak dapat dihindari.
Meski demikian, meningkatnya dominasi produsen China belum berarti era mobil Eropa telah berakhir. Merek-merek seperti Volkswagen, Mercedes-Benz, BMW, dan Stellantis masih memiliki keunggulan pada rekayasa teknik, kualitas manufaktur, jaringan global, serta loyalitas pelanggan. Namun, mereka kini menghadapi bentuk persaingan yang berbeda. Jika sebelumnya kompetisi lebih banyak terjadi antarmerek, kini persaingan bergeser menjadi adu kekuatan ekosistem industri, mulai dari rantai pasok, teknologi baterai, perangkat lunak kendaraan, hingga kemampuan memproduksi mobil listrik secara efisien dalam skala besar.
Karena itu, rekor pangsa pasar mobil China yang menembus 10 persen di Eropa bukan sekadar capaian penjualan. Angka tersebut menjadi penanda bahwa pusat gravitasi industri otomotif dunia sedang bergeser. Bagi produsen Eropa, tantangan terbesar kini bukan hanya mempertahankan pangsa pasar, tetapi juga membangun kembali daya saing agar mampu menghadapi ekosistem industri yang berkembang sangat cepat.
sumber : Xinhua
.png)
2 hours ago
2

















































