Merajut Asa di Langit Nusantara: Dari Meja Perundingan hingga Amphibi Kepulauan

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bayangkanlah seorang Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional duduk berhadapan dengan Presiden Airbus Asia-Pacific di sebuah ruang kerja yang sunyi. Di atas meja, bukan hanya secangkir kopi dan dokumen-dokumen tebal, melainkan juga mimpi tentang langit Indonesia yang lebih sibuk, lebih terhubung, dan lebih berdaulat. Itulah suasana yang tercipta ketika Rachmat Pambudy menerima kunjungan Anand Stanley di Jakarta, Jumat pekan lalu.

Pertemuan itu bukan sekadar seremoni diplomatik biasa. Di balik jabat tangan dan senyuman, tersimpan agenda besar: bagaimana raksasa dirgantara Eropa itu bisa menjadi mitra sejati bagi Indonesia, bukan hanya sebagai penjual pesawat, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri yang sedang dibangun dari Sabang sampai Merauke.

"Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada konektivitas udara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, serta mobilitas masyarakat," ujar Rachmat membuka percakapan. Kata-katanya bukan retorika. Di negara dengan 17 ribu pulau, pesawat terbang adalah urat nadi yang menghubungkan denyut nusantara.

Airbus, yang memiliki sejarah panjang bersama Indonesia, datang dengan membawa sejumlah tawaran menggoda. Mereka siap mempercepat proses pengiriman pesawat, hanya sekitar 24 bulan sejak kontrak diteken. Mereka juga menawarkan pesawat berbadan lebar untuk penerbangan ultra-jarak jauh, yang mampu menerbangkan hingga 480 penumpang langsung dari Jakarta ke New York atau London. Bayangkan, tanpa transit, tanpa lelah, dunia semakin dekat.

Namun yang lebih menarik, Airbus membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) untuk kawasan Asia-Pasifik. Sebuah tawaran yang jika terealisasi, akan menempatkan Indonesia tidak sekadar sebagai tempat persinggahan, tetapi sebagai simpul utama perawatan penerbangan dunia.

Mendengar itu, Rachmat Pambudy tak langsung tergoda. Dengan tenang ia mengingatkan bahwa kerja sama ini harus melampaui aspek jual-beli pesawat. "Penguatan ekosistem dirgantara nasional mencakup pengembangan SDM, sistem MRO, serta peningkatan kapasitas industri dalam negeri. Indonesia tak boleh hanya menjadi pasar, tetapi juga pusat pertumbuhan industri dirgantara kawasan," tegasnya.

Di sisi lain dunia, di ruang kerja Gubernur Sulawesi Selatan, mimpi serupa tengah dirancang dengan warna berbeda. Andi Sudirman Sulaiman duduk bersama pimpinan PT Dirgantara Indonesia, membahas pesawat yang tak butuh landasan panjang, ia cukup mendarat di air. Amphibi seaplane, namanya.

"Ini penting untuk mendukung transportasi antarpulau, khususnya di wilayah kepulauan Sulsel yang membutuhkan akses cepat dan fleksibel," kata Andi Sudirman, Kamis lalu di Makassar.

Lebih dari sekadar alat transportasi biasa, pesawat amphibi ini dirancang menjadi penyelamat dalam keadaan darurat. Ketika laut bergelora dan kapal tak bisa berlayar, ketika pasien di pulau terpencil butuh evakuasi segera, ketika logistik mendesak harus tiba dalam hitungan jam, di sanalah amphibi seaplane menunjukkan taringnya.

"Ini menjadi langkah penting dalam memperkuat konektivitas antarpulau sekaligus menghadirkan solusi transportasi kedaruratan bagi warga kepulauan," ujar gubernur yang juga menegaskan bahwa inisiatif ini adalah bentuk dukungan terhadap program nasional memajukan produk industri dalam negeri.

Sementara itu, di ruang kerja yang lebih hening, para periset dan insinyur tengah menyatukan otak dan otot. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan PT Dirgantara Indonesia baru saja menandatangani nota kesepahaman tentang riset dan pemanfaatan teknologi penerbangan. Bukan sekadar kerja ceremonial, ini adalah perjanjian untuk memastikan bahwa setiap pesawat yang terbang di langit Indonesia lahir dari rahim riset anak bangsa.

Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan menyambut gembira kolaborasi ini. "Syarat mutlak kesinambungan sebuah produk di pasar adalah selalu melakukan pengembangan. Kerja sama ini memungkinkan kita mensinergikan riset dengan pemanfaatannya di industri kedirgantaraan," katanya.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |