Mengenal IBD, Penyakit Radang Usus Kronis yang Kerap Disangka Gangguan Pencernaan Biasa

1 day ago 5

Mei Sada Sirait , Jurnalis-Selasa, 27 Januari 2026 |11:14 WIB

Mengenal IBD, Penyakit Radang Usus Kronis yang Kerap Disangka Gangguan Pencernaan Biasa

Mengenal IBD, Penyakit Radang Usus Kronis yang Kerap Disangka Gangguan Pencernaan Biasa. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) terus menunjukkan peningkatan, baik secara global maupun di Indonesia. Namun demikian, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah, sehingga banyak pasien tidak mengenali gejalanya sejak dini dan baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah berkembang lebih lanjut.

Perlu diketahui bahwa IBD merupakan penyakit radang usus kronis yang hingga kini masih kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, penyakit ini bersifat progresif, berlangsung jangka panjang, dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bila tidak ditangani secara tepat sejak dini.

IBD adalah kondisi inflamasi kronis pada saluran cerna yang terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, sistem imun, lingkungan, serta mikrobiota usus. Dua bentuk utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, sering kali menunjukkan gejala yang tidak spesifik seperti nyeri perut berulang, diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kelelahan.

Gejala-gejala ini kerap disangka sebagai maag, irritable bowel syndrome (IBS), atau infeksi saluran cerna biasa. Kesamaan gejala tersebut membuat banyak pasien IBD baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.

Padahal, keterlambatan diagnosis dan terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan saluran cerna, obstruksi usus, fistula, serta peningkatan risiko kanker kolorektal.

Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam bidang Gastroenterologi-Hepatologi di RS Abdi Waluyo mengatakan, penegakan diagnosis IBD sendiri membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan teliti.

Selain evaluasi klinis, diagnosis perlu didukung oleh pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya untuk membedakan IBD dari penyakit lain yang menyerupai, termasuk infeksi saluran cerna dan tuberkulosis usus yang masih cukup tinggi prevalensinya di Indonesia.

“Setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini. Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal," jelas Prof Marcel, dikutip dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026). 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari

Follow

Berita Terkait

Telusuri berita women lainnya

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |