Mencermati Sisi Psikologis Pasangan Pejuang Garis Dua di Indonesia

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Proses menanti kehadiran buah hati sering kali menjadi babak kehidupan yang menguji ketahanan mental, hubungan emosional, hingga kesabaran finansial pasangan suami istri. Di balik harapan yang terus dijaga, ada realitas medis yang kompleks dan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga peka dari sisi kemanusiaan.

Kompleksitas masalah reproduksi kerap menghadirkan tantangan tersendiri saat diagnosis medis bertemu dengan perjalanan waktu penantian yang panjang. Masalah seperti penurunan kualitas sperma, miom, polip, riwayat keguguran berulang pada usia reproduksi lanjut, hingga penurunan drastis angka Anti-Müllerian Hormone (AMH) sering kali menjadi benteng pertahanan yang menguji batas ketahanan psikologis calon orang tua.

Tekanan psikologis akibat kegagalan berulang dan penantian bertahun-tahun tecermin nyata dari pengalaman berbagai pasangan pejuang garis dua. Salah satunya dialami Reno Intan dan Hendrik yang menjaga harapan selama 11 tahun. Saat Hendrik divonis memiliki gangguan kualitas sperma hingga donor sperma sempat menjadi pilihan, perjuangan mereka kembali diuji karena Reno Intan juga harus menghadapi kondisi seperti miom dan polip.

Pasangan ini telah menjalani enam kali program IVF, termasuk merasakan kegagalan saat berobat di luar negeri dan menerima berbagai vonis yang menyakitkan. Namun, semua itu tidak pernah membuat mereka berhenti melangkah, sampai akhirnya berhasil hamil bersama Morula IVF Indonesia.

Ketahanan mental juga diuji ketika batasan usia dan riwayat kesehatan menjadi tantangan utama. Hal ini dirasakan oleh Dini dan Hakim. Setelah lima tahun penantian panjang yang diuji oleh riwayat keguguran berulang, penantian mereka akhirnya berbuah manis.

Pada usia Dini yang menginjak 45 tahun, keajaiban itu datang melalui sekeping tes bergaris dua yang menjadi bukti bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang bertahan. Tangis bahagia saat mendengar detak jantung pertama sang buah hati menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan memiliki maknanya tersendiri.

Rasa cemas yang mendalam juga acap kali menyelimuti pasangan dengan indikator medis yang tergolong sangat minim secara matematis. Kisah Mina dan Yusuf dari Dusun Sumur, Desa Keramat, Sumenep, Madura, menjadi gambaran nyata bagaimana keteguhan emosional berpadu dengan ikhtiar medis. Pasutri pejuang garis dua ini sebelumnya telah menunggu selama 22 tahun.

Salah satu ikhtiar Mina dan Yusuf untuk mendapat momongan adalah dengan ikut program bayi tabung. Baru sekali ikut program bayi tabung di Morula IVF Indonesia, pasangan tersebut langsung mengandung dua bayi sekaligus. Padahal dengan kondisi AMH di angka 0,1, harapan itu sempat terasa amat sangat kecil. Namun, mereka akhirnya bisa mendengar suara tangis bayi yang dinanti di usia lebih dari 40 tahun.

Realitas emosional tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan tindakan medis tidak berdiri sendiri. Diperlukan ekosistem pendukung yang mampu memberikan rasa aman, ketenangan, dan kepastian informasi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |