REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada suasana berbeda di lantai produksi PT Ecogreen Oleochemicals Batam beberapa waktu lalu. Di antara deru mesin dan hiruk-pikuk aktivitas pabrik pengolahan minyak inti sawit, 44 anak muda tengah asyik menekuni tugas masing-masing.
Mereka bukan karyawan tetap, setidaknya belum semuanya. Mereka adalah peserta Program Magang Hub Nasional, sedang mengasah kemampuan, membangun mimpi, dan membuktikan diri. Namun bagi 13 orang di antaranya, mimpi itu telah lebih cepat menjadi nyata.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli yang meninjau langsung lokasi magang di Batam, Selasa lalu, mendapat kabar yang menggembirakan. Tiga belas dari 44 peserta magang itu telah direkrut menjadi pekerja tetap oleh perusahaan tempat mereka belajar.
"Alhamdulillah ada 44 orang yang magang di sini dan 13 di antaranya bahkan sudah diterima bekerja di sini. Ini contoh yang sangat baik," ujarnya dengan senyum mengembang.
Cerita dari Batam ini menjadi oase di tengah padang gersang pencarian kerja yang kerap dilanda para lulusan baru. Ia menjadi bukti bahwa program magang bukan sekadar formalitas administratif atau sekadar pengganti kerja murah.
Lebih dari itu, magang kini menjelma menjadi jembatan emas antara dunia kampus dan dunia industri, tempat anak muda membuktikan kapasitas, dan perusahaan menemukan berlian yang selama ini mereka cari.
"Karena bagi perusahaan, mencari kandidat itu tidak mudah. Jadi ketika peserta sudah hadir di sini enam bulan, untuk apa perusahaan cari yang lain kalau spesifikasinya memenuhi? Merekrut yang baru belum tentu dikenal baik, uji coba tahu-tahu tidak cocok, dan itu mahal buat perusahaan," kata Yassierli menjelaskan filosofi di balik kesuksesan tersebut.
Logikanya sederhana namun dalam. Enam bulan adalah waktu yang cukup untuk saling mengenal. Bagi perusahaan, periode magang menjadi masa uji coba paling autentik, tanpa risiko dan tanpa biaya rekrutmen yang menguras. Sementara bagi peserta, enam bulan adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa mereka layak, bahwa ijazah dan teori yang mereka bawa dapat diwujudkan dalam kinerja nyata.
PT Dirgantara Indonesia pun merasakan hal serupa. Di Bandung, perusahaan pesawat terbang kebanggaan bangsa itu membuka pintu bagi 134 peserta magang di tahun 2025 ini. Terdiri dari 86 pria dan 48 perempuan dengan latar belakang pendidikan beragam, mereka tidak sekadar menjadi penonton di hanggar raksasa. "Mereka tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga mengembangkan kompetensi, wawasan industri, serta karakter profesional yang akan menjadi bekal penting dalam memasuki dunia kerja," ujar Direktur Produksi PTDI Dena Herdiana.
Siti Aminah, salah satu peserta magang di Batam, membenarkan hal itu. Matanya berbinar saat bercerita tentang pengalamannya. "Program ini sangat berguna untuk melatih soft skill dan hard skill untuk fresh graduate. Sangat membantu kami yang belum ada pengalaman sebelumnya untuk masuk ke suatu perusahaan, sehingga nanti lebih siap lagi saat mencari pekerjaan berikutnya," katanya.
Namun di balik cerita manis dari Batam dan Bandung, Menteri Yassierli menyimpan pekerjaan rumah yang tak kalah besar. Ia ingin kebahagiaan serupa dirasakan oleh lebih banyak anak muda di lebih banyak tempat. Targetnya tahun ini: program Magang Nasional menjangkau seluruh provinsi di Indonesia.
"Ini tantangan kita bersama. Saat ini memang masih banyak penumpukan magang di Pulau Jawa. Kita ingin agar ini tersebar, jadi ada di tiap provinsi," kata Yassierli dalam kesempatan lain di Jakarta.
sumber : Antara
.png)
7 hours ago
5
















































