Kisah Tim Penyelamat Hewan Peliharaan di Tengah Agresi Israel ke Beirut Lebanon

5 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Sudah beberapa pekan terakhir, ibu kota Lebanon, Beirut, menjadi sasaran serangan udara Israel. Di antara puing-puing bangunan yang hancur terhantam roket Israel, Kamal, Khalil, dan Reem, menyusuri jalan-jalan di pinggir selatan Beirut. Mereka mempertaruhkan nyawa untuk mencari serta menyelematkan hewan peliharaan warga. 

Kamal, Khalil, dan Reem adalah anggota sebuah LSM bernama Animals Lebanon. Warga Beirut yang terpisah dengan hewan peliharaannya akibat serangan udara Israel kerap menghubungi Animals Lebanon untuk meminta bantuan. Bermodalkan harapan, tim Animals Lebanon berusaha mencari hewan peliharaan warga yang hilang. 

Selama sepekan terakhir, Kamal, Khalil, dan Reem tengah mencari seekor kucing milik warga yang melompat dari jendela lantai dasar sebuah bangunan yang telah hancur dihantam roket Israel. Dengan mengendarai sepeda motor, ketiganya menyisir jalan-jalan yang telah menjadi fokus serangan udara Israel. 

"Kami tidak pernah kehilangan harapan bahwa kucing yang tidak dapat kami temukan masih ada di sekitar sini, karena ia akan kembali. Ini adalah tempat perlindungannya,” kata sukarelawan Animals Lebanon, Khalil Hamieh (45 tahun), dikutip laman Al Arabiya, Ahad (29/3/2026).

Khalil Hamieh menyadari bahwa pekerjaannya mengevakuasi dan menyelamatkan hewan peliharaan di area yang menjadi fokus serangan Israel mempertaruhkan nyawanya. Dia mengatakan, risiko keselamatan diri bukan hanya dari hantaman roket-roket Israel, tapi terkadang berasal dari hewan yang hendak diselamatkan. 

"Kami takut berkelahi dengan kucing atau anjing saat mencoba menyelamatkannya. Karena mereka tidak mengerti apa yang kami lakukan," ujar Hamieh yang punggung tangannya sudah mulai dipenuhi bekas cakaran hewan. 

Di Haret Hreik, yang berlokasi di pinggiran selatan Beirut, tempat kelompok Hizbullah menjalankan otoritas de facto, rekan Khalil Hamieh, Issam Attar, menghentikan mobil jipnya yang akan membawa kucing-kucing peliharaan yang telah dievakuasi ke rumah sakit. Attar menilai, hewan-hewan tersebut tak semestinya turut terimbas kebrutalan perang. 

“Ini adalah makhluk hidup. Hewan tidak bersalah atas perang atau hal lainnya," ujar Attar. 

Attar pun ingin membantu warga yang hendak menyelamatkan hewan peliharaannya. “Selain fakta bahwa kami merasa iba terhadap hewan, ada juga pemilik yang tidak dapat mengambil hewan peliharaan mereka – kami bisa, dan kami ingin membantu mereka," ucapnya. 

Beirut tak memiliki sistem sirene yang memperingatkan warga jika akan ada serangan udara Israel. Bentuk peringatan kepada warga biasanya hanya sebatas letusan tembakan yang dilepaskan ke udara. 

Manajer Operasi Animals Lebanon, Reem Sadek, mengungkapkan, tembakan dan dentuman ledakan merupakan sesuatu yang menakutkan, tak hanya bagi manusia, tapi juga hewan peliharaan seperti kucing. Dia mengatakan, banyak warga yang terpisah dengan hewan peliharaannya ketika mereka bergegas mengungsi ke tempat aman. 

“Mungkin kami satu-satunya orang yang memiliki pengalaman untuk menemukan... dan menangkap mereka," kata Reem Sadek. 

Sejak awal perang hingga kini, Animals Lebanon telah menyelamatkan 241 hewan dari wilayah Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut. Sejumlah kucing tak dapat segera dikembalian kepada pemiliknya. 

Hal itu karena warga terkait tak memiliki tempat untuk menampung mereka. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tidur di jalanan atau berdesakan di tempat penampungan. Kucing-kucing yang belum dapat dipulangkan ditampung sementara di kantor Animals Lebanon. 

Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026 lalu. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu hingga kini, Israel masih membombardir Lebanon, termasuk wilayah Beirut.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |