Sejumlah perwakilan organisasi profesi jurnalis, jaringan masyarakat sipil, dan pers mahasiswa, mendeklarasikan pembentukan Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY), Ahad (22/2/2026). Hal itu merespons meningkatnya tren kasus kekerasan terhadap jurnalis.
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sejumlah organisasi profesi jurnalis, jaringan masyarakat sipil, dan pers mahasiswa, membentuk Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Jawa Tengah-Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY). Hal itu merespons meningkatnya tren kasus kekerasan terhadap jurnalis.
KKJ Jateng-DIY resmi dibentuk pada Ahad (22/2/2026). Organisasi yang terlibat dan menginisiasi pembentukan komite tersebut yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, AJI Solo, AJI Purwokerto, AJI Yogyakarta, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang, PFI Solo, dan jaringan masyarakat sipil seperti SPLM Jawa Tengah, LBH Semarang, LRC-KJHAM, serta pers mahasiswa.
Ketua AJI Semarang, Aris Mulyawan, mengatakan, pembentukan KKJ Jateng-DIY bertujuan melindungi kerja-kerja jurnalistik. Dia menyebut, KKJ menjadi titik awal membangun keselamatan jurnalis.
“Ini titik awal kita membangun ekosistem keselamatan jurnalis di Jawa Tengah-DIY. Catatan kami, ada sekitar 23 jurnalis Jateng yang menjadi korban, beberapa di antaranya kawan-kawan mahasiswa. Sepuluh anggota LPM menjadi korban kekerasan saat periode pemimpin (Gubernur Jateng) Ahmad Luthfi. Datanya paling banyak pelaku kekerasan adalah polisi, TNI,” kata Aris dalam keterangannya, Senin (23/2/2026).
Menurut Aris, tren kasus kekerasan terhadap jurnalis di Jateng meningkat pada 2025. Jumlahnya mencapai 21 kasus. Detailnya mencakup intimidasi oleh aparat TNI terhadap jurnalis yang memberitakan konflik agraria di Pundenrejo, kekerasan fisik terhadap pewarta saat meliput kegiatan Kapolri di Stasiun Tawang Semarang, penangkapan dan pemukulan jurnalis pers mahasiswa saat peliputan Hari Buruh Internasional (May Day), perampasan kamera, hingga praktik doksing terhadap anggota AJI Semarang dan pekerja media di Jawa Tengah. Mayoritas korban kekerasan di Jawa Tengah pun berasal dari kalangan pers mahasiswa.
Ketua PFI Semarang, Raditya Mahendra Yasa, mengatakan, pembentukan KKJ Jateng-DIY sangat mendesak. "Ini sifatnya mendesak demi keselamatan jurnalis di rezim sekarang ini. Sebenarnya urgensi ini sudah lama dibutuhkan. Kalau terjadi kekerasan kita sudah harus bisa antisipasi langkah-langkahnya. Jurnalis foto juga sangat rentan mengalami kekerasan,” ujarnya.
.png)
3 hours ago
2
















































