Jendela-Jendela yang Kita Biarkan Retak

2 hours ago 3

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra

REPUBLIKA.CO.ID,  Ada satu kesalahan yang pelan-pelan menjadi kebiasaan kita sebagai bangsa: kita terlalu sering datang terlambat. Kita sibuk memadamkan api, tetapi lupa bertanya siapa yang menumpuk ranting kering sejak awal. Kita berdebat panjang tentang kejahatan, kekerasan, intoleransi, korupsi—tetapi jarang menoleh ke tempat pertama semua itu dilahirkan: rumah.

Dalam kerangka Broken Windows Theory yang diperkenalkan oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling, peradaban tidak runtuh karena satu ledakan besar. Ia retak dari hal-hal kecil yang dibiarkan. Dari jendela yang pecah, yang tidak pernah diperbaiki.

Dan di Indonesia hari ini, jendela-jendela itu bukan hanya kaca di tembok kota. Ia adalah rumah—dalam segala maknanya.

Rumah yang Kehilangan Arah

Rumah tangga, yang dahulu menjadi sekolah pertama nilai dan batas, kini sering kehilangan suara. Orang tua sibuk bekerja, anak-anak dibesarkan oleh layar. Bukan lagi percakapan yang membentuk akhlak, tetapi algoritma. Bukan lagi teladan yang menuntun, tetapi tren yang membentuk.

Di titik ini, “jendela pecah” pertama muncul: ketika hal kecil seperti kejujuran, disiplin, dan empati tidak lagi diajarkan secara konsisten.

Rumah adat—dalam arti nilai, tradisi, dan martabat kolektif—pelan-pelan berubah menjadi simbol tanpa ruh. Kita merayakan identitas, tetapi tidak lagi menghidupi maknanya. Upacara tetap ada, tetapi etika yang dikandungnya menguap.

Rumah sekolah pun menghadapi dilema. Ia masih berdiri sebagai institusi, tetapi sering kehilangan jiwa sebagai tempat pembentukan karakter. Nilai akademik menjadi tujuan, sementara nilai kemanusiaan menjadi pelengkap. Kita mencetak lulusan, tetapi tidak selalu membentuk manusia.

Rumah agama—yang seharusnya menjadi jangkar moral—kadang berhenti pada ritual. Ibadah ramai, tetapi keadilan sosial sepi. Simbol-simbol ketaatan tumbuh, tetapi buahnya tidak selalu tampak dalam kejujuran, kepedulian, dan integritas.

Dan rumah negara—yang seharusnya menjadi penjamin arah dan keseimbangan—sering kali datang ketika semuanya sudah terlambat. Kebijakan lahir sebagai reaksi, bukan sebagai pencegahan. Negara hadir di hilir, ketika persoalan sudah menjadi krisis.

Hilir yang Sibuk, Hulu yang Sunyi

Kita melihatnya setiap hari. Aparat bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih kompleks. Penertiban meningkat. Regulasi diperketat. Operasi dilakukan di mana-mana. Tetapi masalah tidak juga berkurang secara mendasar—ia hanya berpindah bentuk.

Ini seperti memperbanyak petugas pemadam kebakaran tanpa pernah membangun sistem pencegahan kebakaran. Kita lupa bahwa dalam logika broken windows, ketertiban bukan dimulai dari penegakan hukum, tetapi dari perawatan nilai.

Ketika pelanggaran kecil dibiarkan di rumah, di sekolah, di ruang sosial—maka negara akan dipaksa menangani pelanggaran besar di jalanan.

Memperbaiki Jendela Sejak Awal

Beberapa negara pernah berada di titik yang sama—dan memilih kembali ke hulu. Di New York City, pada 1990-an, pemerintah tidak hanya menindak kejahatan besar. Mereka memperbaiki “jendela-jendela kecil”: membersihkan grafiti, menata transportasi, menjaga ruang publik tetap rapi. Pesannya sederhana: kota ini dijaga. Hasilnya bukan hanya penurunan kriminalitas, tetapi perubahan psikologi kolektif.

Di Jepang, pendidikan karakter dimulai dari hal paling kecil: siswa membersihkan kelasnya sendiri. Bukan soal kebersihan semata, tetapi tentang tanggung jawab. Mereka tidak diajarkan sekadar menjadi pintar, tetapi menjadi tertib.

Di Finlandia, sistem pendidikan tidak terburu-buru mengejar angka. Mereka membangun kepercayaan, keseimbangan hidup, dan kualitas relasi antara guru dan murid. Hasilnya bukan hanya prestasi akademik, tetapi manusia yang utuh.

Di Singapura, ketertiban bukan hanya hasil hukum yang tegas, tetapi konsistensi sejak awal: dari pendidikan, tata kota, hingga budaya publik. Pelanggaran kecil tidak dibiarkan menjadi kebiasaan.

Mereka semua memahami satu hal: peradaban dijaga dari hulu, bukan diperbaiki di hilir.

Catatan yang Terlalu Lama Kita Tunda

Indonesia hari ini tidak kekurangan aparat. Tidak kekurangan aturan. Tidak kekurangan program. Yang kita kekurangan adalah kesabaran untuk membangun dari awal.

Membangun rumah tangga yang hadir, bukan sekadar ada.

Menghidupkan kembali rumah adat sebagai etika, bukan seremoni.

Mengembalikan sekolah sebagai tempat membentuk manusia, bukan hanya mengukur nilai.

Menjadikan agama sebagai jalan memanusiakan manusia, bukan sekadar identitas.

Dan menghadirkan negara sebagai penuntun, bukan hanya penindak.

Karena jika tidak, kita akan terus mengulang siklus yang sama: membiarkan retakan kecil, lalu panik menghadapi runtuhan besar.

Merawat yang Kecil, Menjaga yang Besar

Barangkali kita perlu jujur pada satu hal sederhana:

bangsa ini tidak sedang kekurangan solusi—ia sedang kelelahan karena terlalu sering memperbaiki akibat, bukan sebab.

Satu jendela pecah mungkin terlihat sepele.

Tetapi dari situlah orang belajar bahwa tidak ada yang menjaga.

Dan ketika semua orang percaya bahwa tidak ada yang menjaga,

maka yang runtuh bukan lagi jendela—

melainkan kepercayaan kita satu sama lain.

Di situlah, diam-diam, sebuah bangsa bisa kehilangan dirinya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |