Jelang El Nino Godzilla, Mentan Pastikan Stok Beras Nasional Aman

8 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi dampak fenomena El Nino ekstrem atau “El Nino Godzilla” yang diperkirakan akan terjadi pada tahun ini dengan memastikan ketersediaan stok pangan nasional dalam kondisi aman hingga tahun depan.

Amran mengatakan tanda-tanda El Nino mulai terasa, namun intensitasnya diperkirakan tidak lebih parah dibandingkan peristiwa serupa pada 2015. Ia menegaskan pemerintah telah memiliki pengalaman dalam mengelola dampak iklim tersebut, termasuk pada periode 2015, 2023, dan 2024.

“Mulai terasa. Katanya kering enam bulan. Tapi sepertinya masih lebih tinggi dulu El Nino yang 2015,” kata Amran di Kompleks Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Ahad (5/4/2026).

Menurutnya, pemerintah Indonesia memperkirakan periode kekeringan akibat El Nino akan berlangsung sekitar enam bulan. Namun, kondisi tersebut diyakini tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional karena stok beras saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Amran menyebutkan stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 4,5 juta ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 5 juta ton dalam waktu 10 hingga 20 hari ke depan. “Sekarang stok kita tertinggi selama merdeka. Insya Allah 10 sampai 20 hari ke depan itu 5 juta ton,” ujarnya.

Selain stok pemerintah, ia menambahkan terdapat cadangan beras di sektor perhotelan, restoran, dan katering (horeka) sebesar 12,5 juta ton. Di sisi lain, produksi yang masih berada di lahan atau standing crop yang siap panen diperkirakan mencapai 11 juta ton.

Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional, baik dari stok maupun potensi produksi, diperkirakan mencapai lebih dari 23 juta ton. Amran memperkirakan jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga 11 bulan ke depan.

“Artinya 11 bulan ke depan ini aman. Untuk rakyat Indonesia, stoknya aman,” kata dia.

Ia menilai kondisi tersebut jauh lebih baik dibandingkan potensi durasi kekeringan akibat El Nino yang diperkirakan hanya berlangsung selama enam bulan. Dengan demikian, kata Amran, risiko gangguan pasokan pangan dapat ditekan.

Selain mengandalkan stok dan produksi yang ada, pemerintah juga mengoptimalkan program irigasi dan pompanisasi untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kering. Program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan tambahan produksi minimal 2 juta ton per bulan.

Jika program tersebut berjalan selama enam bulan masa kekeringan, maka tambahan produksi dapat mencapai sekitar 12 juta ton. “Artinya sampai Maret paling puncak tahun depan aman. Bahkan bisa sampai April,” ujar Amran.

Ia menegaskan berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam mengantisipasi potensi krisis pangan global yang dipicu oleh perubahan iklim dan dinamika geopolitik.

Amran juga menyinggung situasi geopolitik di Timur Tengah yang memanas, termasuk konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga pangan global. Namun, ia memastikan kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap harga pangan di dalam negeri.

“Di tengah situasi politik Timur Tengah yang memanas, apakah akan memengaruhi harga pangan? Alhamdulillah tidak. Kenapa? Berasnya sudah ada,” kata dia.

Selain ketersediaan beras, Amran menyoroti kesiapan pemerintah dalam menjamin pasokan pupuk. Ia mengatakan pemerintah telah mengantisipasi kebutuhan pupuk sejak awal tahun dengan mengamankan bahan baku.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai memiliki visi dan insting kuat dalam membaca potensi krisis global, termasuk krisis energi dan pangan.

“Awal tahun kita sudah beli stok bahan baku pupuk. Sekarang stok pupuk kita banyak,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Amran, Indonesia berpotensi mengekspor pupuk jenis urea ke sejumlah negara karena produksi dalam negeri mencukupi kebutuhan domestik. Ia menyebutkan sudah ada permintaan dari tiga negara, meskipun proses negosiasi masih berlangsung.

“Kita akan ekspor urea. Sudah ada tiga negara yang meminta, tapi masih dalam tahap negosiasi,” kata dia.

Dengan kombinasi stok beras yang tinggi, potensi produksi yang masih besar, serta dukungan infrastruktur irigasi dan ketersediaan pupuk, Amran optimistis Indonesia mampu menghadapi dampak El Nino tanpa mengalami krisis pangan.

Ia menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan iklim dan memastikan langkah antisipatif berjalan optimal agar stabilitas pangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |