Jakarta yang Dijual dari Balik Jendela Bus

8 hours ago 5

Image Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan

Info Terkini | 2026-07-28 15:08:07

Ilustrasi: Ai


Di satu sisi, Kota Jakarta menawarkan gedung pencakar langit, kawasan bisnis, pusat hiburan, hingga berbagai inovasi transportasi. Di sisi lain, kota ini juga memperlihatkan kemacetan, pekerja informal yang mengejar nafkah dari pagi hingga malam, serta kesenjangan yang dapat terlihat hanya dalam beberapa kilometer perjalanan.

Mulai 1 Agustus 2026, Transjakarta menghadirkan wisata kuliner di atas bus. Penumpang diajak menikmati hidangan sambil berkeliling ibu kota dengan iringan musik dan suasana yang dirancang nyaman. Sebagai inovasi layanan, gagasan ini layak diapresiasi. Banyak kota dunia telah mengembangkan konsep serupa sebagai bagian dari wisata perkotaan.

Namun, sebelum roda bus itu benar-benar berputar, ruang digital lebih dahulu dipenuhi perdebatan. Komentar yang paling banyak mendapat perhatian bukan membahas cita rasa makanan atau rute perjalanan. Warganet justru mempertanyakan ironi yang mereka lihat.

"Makan mewah sambil mempertontonkan kemiskinan."

Komentar itu mungkin terdengar emosional. Namun, ia juga mengungkap sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ketidaksukaan terhadap sebuah program wisata.

Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat membaca kota.

Dalam sosiologi, ruang kota bukan sekadar kumpulan jalan, halte, dan bangunan. Kota merupakan ruang sosial tempat berbagai kelompok hidup dengan pengalaman yang berbeda meskipun berada di lokasi yang sama. Jalan yang dilewati bus wisata adalah jalan yang setiap hari dilalui pekerja kantoran, pengemudi ojek, pedagang kaki lima, petugas kebersihan, dan jutaan penumpang Transjakarta yang berangkat bekerja sejak subuh.

Mereka melihat pemandangan yang sama. Namun, mereka tidak mengalami kota dengan cara yang sama.

Di sinilah letak persoalannya. Bus wisata kuliner menjual pengalaman menikmati Jakarta. Sementara bagi sebagian warga, Jakarta bukan pengalaman yang dibeli, melainkan realitas yang harus dijalani setiap hari.

Dalam beberapa dekade terakhir, kota-kota besar di dunia semakin bergerak menuju experience economy. Nilai ekonomi tidak lagi hanya berasal dari barang atau jasa, tetapi dari pengalaman yang dapat dijual kepada konsumen. Restoran menjual suasana. Hotel menjual cerita. Moda transportasi pun mulai menjual sensasi perjalanan.

Transformasi seperti ini bukan sesuatu yang keliru. Bahkan dapat membuka peluang ekonomi baru. Yang perlu dipertanyakan justru adalah pengalaman seperti apa yang sedang diproduksi.

Ketika seseorang menikmati hidangan di atas bus, apa yang sebenarnya sedang ia konsumsi? Makanan, perjalanan, atau pemandangan kota?

Pertanyaan ini menjadi penting karena kota bukan panggung yang kosong. Di balik jendela bus, terbentang kehidupan yang kompleks. Ada warga yang berangkat kerja dengan upah minimum, anak-anak yang tinggal di permukiman padat, pedagang yang menggantungkan penghasilan pada keramaian trotoar, dan pengguna transportasi publik yang setiap hari berdesakan agar tiba di tempat kerja tepat waktu.

Semuanya hadir dalam lanskap yang sama. Sosiolog Prancis Guy Debord menyebut masyarakat modern sebagai society of the spectacle, masyarakat yang semakin akrab dengan realitas yang telah dikemas menjadi tontonan. Yang dinikmati bukan lagi kehidupan itu sendiri, melainkan representasi kehidupan. Kota berubah menjadi latar visual. Aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari pengalaman yang dapat dipasarkan.

Tanpa disadari, kemacetan dapat berubah menjadi panorama. Gedung tinggi menjadi dekorasi. Bahkan kesenjangan sosial dapat menjadi latar yang nyaris tidak terlihat karena perhatian telah berpindah pada pengalaman yang sedang dijual.

Namun, kritik publik terhadap bus wisata kuliner juga perlu dibaca secara hati-hati. Tidak setiap inovasi berarti mengabaikan persoalan sosial. Kota membutuhkan kreativitas agar tetap hidup, menarik, dan memiliki nilai ekonomi. Wisata perkotaan dapat menjadi bagian dari strategi itu.
Persoalannya bukan apakah bus restoran boleh beroperasi.

Persoalannya adalah apakah pembangunan kota hanya menghasilkan pengalaman baru bagi mereka yang mampu membeli tiket, atau juga menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik bagi mereka yang setiap hari menjaga agar kota ini tetap bergerak.

Perdebatan mengenai bus wisata kuliner akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar menu dan harga.

Siapa yang sebenarnya sedang menikmati Jakarta?

Apakah kota ini dinikmati sebagai pengalaman sesaat dari balik jendela, atau sebagai ruang hidup yang memberi kesempatan yang setara bagi setiap orang untuk merasakan hasil pembangunan?

Sebab sebuah kota tidak hanya dinilai dari seberapa kreatif ia mengemas dirinya menjadi destinasi. Kota juga dinilai dari kemampuannya memastikan bahwa mereka yang setiap hari membangun, membersihkan, mengemudikan, dan menghidupkan kota tidak sekadar menjadi pemandangan di balik kaca, melainkan bagian yang turut menikmati nilai yang diciptakan kota itu sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |