REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Senator Amerika Serikat Gary Peters menuntut Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS atau U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) membuka seluruh informasi mengenai pengadaan dan penggunaan perangkat mata-mata komersial yang mampu menyusup ke telepon seluler tanpa diketahui pemiliknya.
Dalam surat tertanggal Kamis (23/7/2026), Peters mempertanyakan kontrak penunjukan langsung senilai 2 juta dolar AS untuk teknologi Graphite yang dikembangkan perusahaan spyware Paragon Solutions. Surat tersebut ditujukan kepada Pelaksana Tugas Direktur ICE David Venturella, bukan langsung kepada Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin.
Peters, politikus Demokrat yang menjadi anggota senior dari kubu minoritas di Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat, menyebut pengadaan itu sebagai salah satu perluasan paling signifikan atas kemampuan pengawasan ICE dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS).
“Graphite merupakan alat siber yang sangat kuat dan invasif,” tulis Peters, sebagaimana diberitakan media Amerika. Menurut dia, perangkat tersebut dapat menerobos telepon secara diam-diam, mengambil pesan, foto, berkas, data lokasi, dan informasi tersimpan lainnya, sekaligus mengaktifkan mikrofon dan kamera tanpa sepengetahuan pemilik perangkat.
Kemampuan semacam itu membuat Graphite berbeda dari perangkat ekstraksi telepon biasa yang mengharuskan aparat memegang atau menyita perangkat terlebih dahulu. Spyware komersial dapat mengeksploitasi celah keamanan dan mengakses data langsung dari ponsel sasaran, termasuk percakapan pada aplikasi terenkripsi.
Citizen Lab di Universitas Toronto sebelumnya menemukan bukti forensik bahwa Graphite menggunakan serangan zero-click melalui iMessage. Dalam serangan semacam ini, korban tidak perlu mengeklik tautan, membuka lampiran, maupun melakukan tindakan apa pun agar perangkatnya disusupi. Apple menyatakan celah yang ditemukan dalam kasus tersebut telah ditutup sejak pembaruan iOS 18.3.1.
ICE Diminta Ungkap Siapa yang Disadap
Peters meminta ICE menjelaskan apakah Graphite pernah digunakan di wilayah Amerika Serikat, berapa banyak warga AS dan warga asing yang menjadi sasaran, lokasi mereka ketika ditargetkan, serta alasan penggunaan spyware dalam setiap kasus.
Ia juga menuntut penjelasan mengenai dasar hukum yang digunakan ICE untuk mengoperasikan teknologi itu. Peters meminta ICE mengungkap apakah data yang diperoleh melalui Graphite telah dibagikan kepada unit lain di ICE, lembaga pemerintah, perusahaan swasta, organisasi nirlaba, atau sistem yang berada di luar Amerika Serikat.
Pertanyaan Peters juga menyentuh keamanan rantai pasok. Ia meminta ICE menjelaskan apakah setiap pembaruan sistem dan perangkat lunak Graphite diperiksa secara independen untuk mencegah penyusupan, manipulasi kode, maupun akses tersembunyi oleh pihak asing.
.png)
6 hours ago
4










































