REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase kritis pada 2026 seiring kebutuhan mempercepat transformasi dari pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah. Tahap ini dinilai akan menentukan arah pemanfaatan cadangan bauksit nasional dalam jangka panjang.
ISEW memandang hilirisasi bauksit tidak lagi sekadar agenda sektoral pertambangan, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat struktur industri nasional. Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium menjadi bahan baku strategis bagi sektor manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan.
Direktur Eksekutif ISEW Ferdy Hasiman menyampaikan Indonesia mulai menunjukkan pergeseran penting dalam pengelolaan sumber daya mineral. “Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan komoditas mineral di dalam negeri,” kata Ferdy di Jakarta, Rabu (7/1/2025).
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,7 miliar ton berstatus siap ditambang. Besarnya cadangan tersebut memberi ruang luas bagi pengembangan industri hilir berbasis mineral.
Namun, pemanfaatan cadangan bauksit belum sepenuhnya optimal. Produksi bijih bauksit nasional sempat mencapai 31,8 juta ton pada 2022, kemudian turun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024 setelah larangan ekspor bijih mentah diterapkan. Penurunan ini menunjukkan masih kuatnya ketergantungan produksi pada pasar ekspor bahan mentah.
Kondisi tersebut mendorong kebutuhan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri. Hilirisasi dipandang sebagai jalur utama agar cadangan mineral nasional menghasilkan nilai tambah maksimal dan menopang industrialisasi berkelanjutan.
ISEW mengapresiasi langkah pemerintah yang mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit dari hulu ke hilir. Integrasi pengolahan dari bauksit menjadi alumina hingga aluminium dinilai krusial untuk menjamin pasokan bahan baku industri nasional.
Ferdy menilai keterpaduan tersebut menjadi fondasi penguatan industri dalam negeri. “Integrasi dari hulu ke hilir penting untuk memastikan kebutuhan aluminium nasional dapat dipenuhi tanpa bergantung pada pasokan luar negeri,” ujarnya.
Aluminium hasil pengolahan terintegrasi diharapkan memperkuat rantai pasok industri nasional. Material ini digunakan secara luas pada sektor manufaktur, transportasi, sistem kelistrikan, hingga pengembangan energi terbarukan yang terus tumbuh.
Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandi Arif menilai kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi global. Perbedaan tingkat pendapatan negara turut memengaruhi pola pemanfaatannya.
“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya dominan untuk transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.
Kajian International Aluminium Institute mencatat kapasitas pemurnian alumina menjadi indikator penting daya saing industri suatu negara. Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium domestik sekaligus membuka peluang pasar global.
.png)
1 day ago
3














































