REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Tengah (Jateng), Antonius Yogo Prabowo, mengatakan, Bangkit Mahanantiyo telah menerima posisinya sebagai ketua DPD PSI Kota Semarang 2025-2030 digantikan figur lain. Keputusan DPP PSI mencopot Bangkit sebagai ketua menjadi salah satu pemicu mundurnya puluhan pengurus inti di 12 DPC PSI di Kota Semarang.
Antonius mengungkapkan, pihaknya menyampaikan soal terbitnya surat keputusan DPP PSI tentang pengangkatan pelaksana tugas ketua DPD PSI Kota Semarang kepada Bangkit pada Jumat (20/2/2026). Menurut Antonius, Bangkit dapat menerima keputusan tersebut.
"Ketika bertemu, Mas Bangkit fine-fine saja, bisa menerima. Pas ketemu, 'Oke, untuk Semarang terbaik, kami ngikut'," kata Antonius menyitir pernyataan Bangkit ketika bertemu dengannya pada Jumat pekan lalu, Selasa (24/2/2026).
Oleh sebab itu, Antonius mengaku heran mengapa terdapat puluhan pengurus DPC PSI di Kota Semarang yang memutuskan mundur setelah adanya penunjukan pelaksana tugas menggantikan Bangkit. Padahal Bangkit telah menerima keputusan DPP tersebut.
"Mas Bangkit, sesuai dengan profesinya, kami tarik di bidang advokasi hukum (DPW PSI) Provinsi Jawa Tengah. Tidak ada yang disingkirkan, tidak ada yang dibuang. Mas Bangkit, sesuai kapasitas kemampuannya, kami tarik di bidang advokasi hukum Provinsi Jawa Tengah di DPW," ucap Antonius.
Republika telah berusaha menghubungi Bangkit untuk meminta keterangan lebih mendetail soal penggantiannya dari posisi ketua DPD PSI Kota Semarang. Namun hingga berita ini ditulis, Bangkit belum memberikan respons.
Antonius mengatakan, DPW PSI Jateng akan segera mengganti puluhan pengurus DPC PSI di Kota Semarang yang mengundurkan diri. "Secara organisasi, kalau memang mereka sudah pilihannya mundur, kami juga segera siapkan dan nama-nama penggantinya sudah ada," ujarnya.
Dia mengeklaim, DPW PSI Jateng sudah berupaya membangun komunikasi dan membuka ruang untuk menampung aspirasi para pengurus DPC PSI di Kota Semarang yang memutuskan mundur. Namun hal tersebut tak dimanfaatkan oleh mereka.
"Seluruh DPC di Kota Semarang kami undang, ayo kami tampung aspirasinya. Itu mereka yang muncul di media malah tidak mau datang. Ada yang datang tapi langsung WO (walk out)," kata Antonius.
Dia mengaku turut menyayangkan mengapa para pengurus DPC PSI di Kota Semarang lebih memilih berbicara langsung kepada media. Padahal ada mekanisme-mekanisme internal yang disediakan partai jika mereka memang keberatan dengan SK soal kepengurusan DPD PSI Kota Semarang.
"Secara organisasi, kalau memang teman-teman keberatan soal SK, kan bisa bersurat, datang ke majelis pertimbangan partai, ke bidang OKK (organisasi, kaderisasi, dan keanggotaan/kelembagaan). Banyak tempat untuk sharing soal ini," kata Antonius.
Mundurnya puluhan pengurus di belasan DPC PSI di Kota Semarang dipicu oleh susunan kepengurusan di DPD PSI Kota Semarang 2025-2030. Mereka mengeklaim struktur kepengurusan DPD yang disahkan DPP berbeda dengan yang disetujui segenap DPC di Kota Semarang
Menanggapi hal itu, Antonius mengatakan, dalam proses penyusunan struktur kepengurusan, partainya selalu menampung suara atau aspirasi dari segenap kader, termasuk mereka yang tergabung dalam DPC. Namun penetapannya tetap menjadi kewenangan DPP.
"Di AD/ART tidak ada, misalnya, seperti di partai lain, yang diusulkan DPC kemudian naik. Aspirasi tentu akan menjadi masukan berharga bagi kami. Tapi semua keputusannya kan di DPP, di Mas Ketum," ungkap Antonius.
Pilih mundur
.png)
2 hours ago
1
















































