REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Mas Alamil Huda, Jurnalis Republika
Gawai Heni berdering ketika ia sedang mengiris sayur di meja dapur. Ia letakkan pisau lantas menjemba ponsel yang tak jauh dari tempatnya duduk. Terpampang nama ‘Bang Bay’ di layar. Tidak biasa putra bungsunya itu menelepon di hari yang masih pagi, saat matahari belum lewat sepenggalah.
“Kaki Bapak yang kanan nggak bisa digerakkan katanya, Bu.” Suara Bayu (17 tahun) dari ujung telepon terdengar panik dan gugup. Heni pun kaget dan spontan istighfar. Belum sempat balik tanya, remaja kelas X SMA itu kembali mengabarkan tangan kanan sang ayah juga terasa kebas dan lumpuh. Kali ini Heni benar-benar terdiam.
Saat Heni berangkat dari rumah, Zulkarnain (51) masih beraktivitas seperti biasa. Tak ada tanda-tanda suaminya sakit. Perempuan 45 tahun itu tertegun dan bingung.
“Ada apa, Mbak?” tanya Nur (35) memecah keheningan. Heni menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
Seketika Nur memintanya bergegas pulang dan secepatnya membawa Zul ke rumah sakit. Ia menyarankan agar langsung menuju IGD setiba di rumah sakit. “Jangan lupa KIS-nya dibawa ya, Mbak.”
Heni sehari-sehari bekerja di rumah Nur selama beberapa tahun terakhir, di Kelurahan Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Rumah Heni tak jauh dari rumah Nur. Tidak lebih dari 10 menit jalan kaki.
Sesampainya di rumah, Heni mencari Kartu Indonesia Sehat (KIS) atas nama Zulkarnain. Heni, Zul, dan dua anak mereka terdaftar sebagai peserta KIS Penerima Bantuan Iuran (PBI). Empat kartu KIS PBI tersimpan rapi di laci lemari meski hampir tak pernah dipakai. Bukan karena Heni tak percaya pada manfaatnya, hanya memang selama ini keluarganya sehat dan tak pernah dirawat di rumah sakit.
Saat Heni meminta Bayu memesan taksi online untuk membawa sang ayah ke rumah sakit, Zul justru meminta mengurungkan rencana itu. “Di rumah saja,” ujar Zul singkat sembari memejamkan mata. Bayu sempat bertanya mengapa, tapi Zul hanya diam.
Heni tahu persis, ada sesuatu yang menggelayut di pikiran suaminya. Bukan rasa sakit di kaki kanan. Bukan pula tangan yang tiba-tiba sulit digerakkan. Tapi, biaya!
Zul hanya buruh kasar di sebuah toko material. Ia hanya akan mendapatkan uang jika ada yang dikerjakannya di hari itu. Penghasilan harian itu lebih sering hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Membayangkan rumah sakit membuat lelaki paruh baya itu khawatir.
Heni lantas menelepon Nur. “Bu, pakai KIS apa masih harus bayar untuk perawatan di rumah sakit?”.
Dari ujung telepon, Nur meyakinkan Heni dan sedikit menceritakan pengalamannya. Entah sebab penjelasan Nur atau karena akhirnya menyadari kondisi tubuhnya, Zul luluh dan mengiyakan.
10 Menit
Akhir Juni 2026, di siang terik Zul tiba di IGD rumah sakit di Ciputat, Tangerang Selatan. Dua perawat cekatan menolong dengan membawakan kursi roda. Satu perawat lain menyiapkan bed. Dokter di IGD kemudian melakukan pemeriksaan awal. Heni yang berdiri di sisi ranjang, sesekali memijat tangan suaminya.
Sementara Bayu diarahkan perawat untuk mengurus keperluan administrasi. KTP dan KIS PBI atas nama Zulkarnain dibawanya. Ia bergegas menuju ke bagian pendaftaran. Ia menyodorkan KTP dan kartu KIS atas nama ayahnya.
Jemari petugas administrasi terlihat menari di atas keyboard dan matanya menatap monitor. Tak sampai 10 menit, mesin pencetak di sampingnya berbunyi. Beberapa lembar kertas tercetak. Salah satunya disodorkan ke Bayu. Petugas tersebut meminta Bayu untuk tanda tangan di ujung kanan bawah kertas berukuran setengah A4.
“Bapak kemungkinan kena gejala strok kata dokter, Bang,” kata Heni lirih saat Bayu kembali dari merampungkan urusan administrasi pendaftaran. Tak satu kata pun keluar dari mulut Bayu. Matanya beralih tertuju pada ayahnya yang terkulai di ranjang IGD.
Zul kemudian dipindahkan ke bangsal perawatan sesuai kelas kepesertaan. Di sana ia dirawat selama lima hari. Bayu dan kakaknya, Elin (21), bergantian membantu menunggu ayah mereka. Lima hari yang terasa panjang bagi keluarga sederhana itu.
Setelah lima hari dirawat, Zul diizinkan pulang. Ia sudah bisa berjalan. Memang belum sempurna seperti sedia kala. Langkahnya masih belum kuat. Zul diminta melanjutkan perawatan dengan terapi rehabilitasi tiga hari setelah pulang dari rumah sakit.
Tiga Tahun Lalu
Sehari setelah Zul pulang dari rumah sakit, Nur datang menjenguk bersama suami dan kedua anaknya. Di rumah petak sederhana itu, Zul duduk santai bersandarkan tembok di kasur tipis di ruang tamu. Heni terlihat menemani dan sesekali memijat kaki suaminya.
“Bener nggak bayar sama sekali, Bu. Pas pulang saya cuma diminta tanda tangan di kertas kecil sama petugasnya, terus dikasih selembar buat kontrol saja, katanya buat terapi,” ujar Heni menceritakan.
Jawaban itu membuat Nur sejenak terdiam. Ingatan Nur merentang ke belakang. Tiga tahun silam, Nur melahirkan anak keduanya. Proses persalinan tidak berjalan sepenuhnya biasa. Bayi yang dikandungnya terlilit ari-ari hingga butuh penanganan khusus. Kini, bocah tiga tahun itu ikut bersamanya menjenguk Zul.
Ketika mengurus administrasi kepulangan, suami Nur hanya membayar Rp 35 ribu. Bukan untuk biaya perawatan. Juga bukan untuk biaya persalinan. Uang itu sebagai ganti biaya kendi tanah liat. Wadah untuk menyimpan ari-ari yang kemudian akan dikuburkan.
Nur dan keluarganya terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan kelas 1 dengan iuran yang musti dibayarkan mandiri setiap bulan. Sementara Heni dan keluarganya terdaftar sebagai peserta KIS PBI. KIS PBI khusus untuk masyarakat tidak mampu. Biaya iuran bulanan peserta program ini sepenuhnya ditanggung pemerintah, baik pusat melalui APBN atau daerah melalui APBD.
Pak Zul kini telah sembuh sepenuhnya dan kembali beraktivitas seperti biasa. Sedangkan Nur tak pernah lupa perjuangan melahirkan buah hatinya. Kelas kepesertaan keduanya berbeda. Kondisi ekonomi memang tak sama. Cerita sakit yang berbeda pula. Namun, kedua keluarga itu bertemu pada satu hal, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Gotong Royong
Petugas melayani warga di loket BPJS Kesehatan Jakarta Pusat, Jakarta, Jumat (17/6/2022).
.png)
5 hours ago
1

















































