REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Asa untuk tetap bersekolah tak pernah redup bagi M Ricki Aditia, bocah 13 tahun asal Kota Cimahi, Jawa Barat. Dengan segala keterbatasan ekonomi, harapan itu akhirnya terkabul dengan keberadaan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 08 Cimahi.
Adit, begitu ia disapa awalnya mengaku pesimistis bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama usai lulus bangku Sekolah Dasar tahun 2025. Musababnya, sejak kecil ia hanya diasuh sang nenek yang hanya seorang penjual kopi keliling.
Bahkan, bocah itu sempat menjadi pemulung demi uang jajan dan membantu sang nenek. Sementara kedua orang tuanya pergi entah ke mana.
Namun, Sekolah Rakyat (SR) yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menjadi cahaya terang bagi Adit.
Hidupnya berubah dratis karena kini bisa merasakan tidur di ranjang sendiri yang dilengkapi sebuah meja tulis kecil tempatnya belajar kala tak ada kegiatan belajar mengajar (KBM).
Sesuatu yang setahun lalu sebenarnya terasa mustahil karena bertahun-tahun ia sudah terbiasa berdesak-desakan di sepetak kamar kontrakan bersama nenek dan kakaknya yang selalu berpindah-pindah.
Kini Aditia sedang pulang ke kontrakan neneknya di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi karena SR sedang libur hingga 5 Juli 2026.
"Sekarang udah nyaman di asrama, banyak temen juga yang baik. Semuanya dikasih di sini, alhamdulillah senang bisa masuk Sekolah Rakyat," kata Adit kepada Republika belum lama di SRMP 08 Cimahi.
Kerasnya Kehidupan Sebelum Masuk Sekolah Rakyat
Perjalanan Adit cukup berat sejak kecil karena sudah tidak merasakan pelukan hangat dan kasih ibu dan bapaknya yang pergi meninggalkannya. Ia diasuh dan dibesarkan neneknya yang sehari-hari berjualan kopi.
Mereka tinggal di sebuah kontrakan yang selalu tidak menetap di satu wilayah. Saat masih duduk di jenjang Sekolah Dasar (SD), mereka tinggal di sekitar Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Ia sudah mengerti betapa beratnya perjuangan sang nenek untuk membesarkan dan menghidupinya. Di tengah keterbatasan itu, Adit tetap memiliki semangat tinggi untuk bersekolah.
Bahkan di usia yang seharusnya hanya berpikir tentang sekolah dan bermain, Adit malah sudah tahu betapa susahnya mencari uang. Ia memulung barang-barang yang bisa didaur ulang dan bernilai ekonomi.
Kebiasaan itu biasanya dilakoni setelah pulang sekolah karena baginya pendidikan tetap yang terpenting. "Mulung itu kalau enggak salah pas kelas 4 SD. Biasanya pulang sekolah istirahat dulu, baru mulung sampe setengah 3-an," ucap Adit.
Sampah yang dikumpulkannya itu kemudian dibersihkan dan dijual kembali. Hasilnya, uang itu digunakannya untuk jajan demi mengurangi beban neneknya.
"Paling dapat mungkin satu karung, dikumpulin dulu dibersihin baru dijual sama nenek. Buat meringankan beban nenek juga. Kalau nenek sampe sekarang masih jualan kopi," kata Adit.
Menemukan Harapan di Sekolah Rakyat
Di tengah keterbatasan ekonomi itu, Adit memiliki semangat tinggi untuk sekolah. Bak gayung bersambut, harapan itu pun terwujud karena bersamaan dengan kelulusannya dari jenjang SD, Presiden Prabowo dan Mensos Gus Ipul membuka program SR.
SR hadir sebagai wujud nyata afirmasi negara untuk menjangkau kelompok masyarakat yang tidak terlihat atau invisible people yang selama ini terhambat akses pendidikannya akibat faktor sosial maupun ekonomi keluarga.
Pada dasarnya program itu memang menyasar keluarga miskin dan miskin ekstrem dalam golongan desil 1 (10 persen keluarga termiskin) atau desil 2 (11-20 persen termiskin). Tujuan utamanya adalah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui penyediaan akses pendidikan gratis dan berkualitas.
"Jadi abis lulus SD itu ada datang ke nenek ngasih tau soal Sekolah Rakyat, langsung aja daftar," ucapnya.
Bersama para peserta didik lainnya, Adit akhirnya memasuki asrama SR di Sentra Abiyoso, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi pada Juli 2026.
Tentunya butuh adaptasi bagi dengan kebiasaan baru di asrama yang menerapkan sistem asrama atau boarding school. Adit harus terbiasa dengan rutintitas harian yang terstruktur dan disiplin waktu.
SR mengusung konsep pendidikan holistik yang tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik saja, juga pembentukan karakter dimana siswa dilatih untuk hidup mandiri, memiliki rasa percaya diri dan berani bermimpi.
Dengan sistem asrama atau boarding school, mereka harus terbiasa dengan rutintitas harian yang terstruktur dan disiplin waktu. Aktivitas siswa dimulai pukul 03.30 WIB bagi yang ingin melaksanakan shalat Tahajud.
Kemudian bagi yang ingin puasa Senin dan Kamis pun akan dibangunkan dan disiapkan makam sahurnya. Sedangkan aktivitas bersama diawali dengan apel dan dilanjutkan shalat subuh berjamaah di masjid.
Pukul 06.00 WIB waktunya sarapan pagi bagi para siswa termasuk Kirana yang dilanjutkan dengan bersih-bersih lingkungan. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) baru dimulai pukul 07.00-14.30 WIB mengikuti kurikulum yang berlaku secara nasional.
Setelahnya, berlanjut dengan kegiatan keasramaan dan ekstrakulikuler sesuai keinginan siswa, belajar mandiri hingga bersih-bersih lingkungan lagi.
Di malam hari, diisi mengaji, kelas literasi, numerasi, peminatan hingga kelas tambahan bagi anak yang membutuhkannya. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan tidur maksimal pukul 21.00 WIB. Adit bertahan dengan rutinitas yang awalnya menjenuhkan.
Alasannya cukup mengharukan dan mulia. Ia ingin membahagiakan dan membuat neneknya bangga meskipun tak akan pernah bisa membalas semua jasanya yang sudah mencurahkan waktu, tenaga, pikiran hingga materi untuk membesarkan Adit.
"Awal-awalnya memang kadang bosen karena enggak terbiasa. Tapi lama-lama nyaman juga di sini, banyak temen tidur bareng di asrama dan sebagainya," tuturnya.
Asa Meraih Kesuksesan Dimulai dari Sekolah Rakyat
Di SR, Adit mulai merangkai mimpi dan cita-citanya. Ia yang kini sudah naik ke kelas 8 pun memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebanyak-banyaknya. Bukan hanya ihwal akademik, juga hal positif lainnya yang menunjang kesukesannya di masa mendatang.
Usianya yang masuk Gen Alpha akan menjadi bagian dari Generasi Emas 2045 yang merupakan visi besar Indonesia untuk menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara adidaya pada peringatan 100 tahun kemerdekaannya.
Apalagi pemerintahan era Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memiliki cita-cita besar Asta Cita khususnya poin keempat yang menitikberatkan pada pembangunan pendidikan, sains, teknologi, dan kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM).
"Kalau ditanya cita-cita saya masih bingung, tapi saya mau sukses buat bahagian nenek. Sekolah di sini insyaAllah jadi jalan saya. Semuanya alhamdulillah difasilitasi, termasuk hobi saya futsal," kata Adit.
Ragam Latar Belakang Siswa SRMP 08 Cimahi
Humas SRMP 08 Cimahi, Retno Ika mengatakan, total peserta didik di sekolah itu mencapai 93 anak yang terbagi ke dalam empat rombongan belajar (rombel).
Anak-anak itu merupakan hasil penjaringan Kementerian Sosial yang bekerja sama dengan Dinas Sosial di daerah serta pendamping. Prioritas utama adalah anak-anak dari desil 1 dan desil 2.
"Namun, jika ada prioritas lain di luar itu, tetap diperkenankan selama anaknya bersedia dan orang tuanya mengizinkan," ucap dia.
Secara psikologis, ungkap dia, latar belakang anak-anak di SRMP 08 Cimahi sangat beragam. Ada yang mengalami salah pengasuhan, memiliki trauma psikologis tertentu, hingga anak yang kurang fokus belajar karena memikirkan kondisi rumah.
"Dari segi ekonomi, ada anak yang dulunya pernah memulung, hingga anak yang orang tuanya sama sekali kesulitan berkunjung karena tidak memiliki uang," ucapnya.
Ragam lata belakang itu tentu saja menjadi tantangan bagi semua tenaga kependidikan di SRMP 08 Cimahi. Di awal masuk asrama, ungkap Retno, ada anak yang mengalami tantrum, ada yang histeris seperti kesurupan, hingga anak yang enggan tidur hingga kebiasaan-kebiasaan rumah yang terbawa ke asrama.
Untuk menangani hal ini, sekolah bekerja sama dengan Klinik Sentra Abiyoso untuk penanganan secara klinis dan medis.
Selain itu, disediakan juga fasilitas psikolog untuk asesmen psikologi anak serta penanganan psikososial mereka. Pihaknya ingin semua peserta didik nyaman belajar di Sekolah Rakyat yang membuka asa untuk masa depan yang lebih baik.
"Alhamdullilah, saat ini anak-anak sudah cukup betah, mau tidur di asrama, makan dengan lahap bersama-sama, dan tidak ada lagi anak yang menyendiri," ujar Retno.
Perkembangan Positif Siswa Sekolah Rakyat
Dikutip dari laman resmi Kementerian Sosial, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, SR membawa perubahan positif bagi para siswanya. Mereka menjadi lebih percaya diri, disiplin, dan berani setelah menjalani proses pembelajaran sejak Juli tahun lalu.
"Kita tahu sekarang, kita lihat secara langsung bagaimana anak-anak sudah lebih percaya diri, anak-anak kita lebih semangat untuk belajar, lebih bugar, lebih disiplin dan berani tampil di atas panggung," kata Gus Ipul.
Dirinya menjelaskan pendekatan SR dirancang fleksibel melalui sistem multi entry dan multi exit, disertai pendampingan intensif serta percepatan pembelajaran yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa.
"Di SR memang multi entry, multi exit. Kapan saja bisa masuk, kapan saja bisa lulus. Ada pendampingan khusus, ada percepatan, sesuai dengan talentnya, sesuai minat dan bakatnya," kata Gus Ipul.
Lebih lanjut, Gus Ipul menegaskan, SR merupakan intervensi berbasis data yang menyasar keluarga tidak mampu agar anak-anak mereka memperoleh akses pendidikan berkualitas.
"Keluarga-keluarga tidak mampu di mana putra-putrinya diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas. Sekolah rakyat, sekolah berasrama, dididik selama 24 jam, disertai dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung," katanya.
.png)
2 hours ago
4












































