Ibu yang sedang memarahi anak laki-lakinya (ilustrasi). Orang tua sering kali tanpa sadar orang tua menyematkan label tertentu pada anak-anak mereka, seperti si anak nakal, si pintar, si pemalu, atau si penurut. (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua sering kali tanpa sadar orang tua menyematkan label tertentu pada anak-anak mereka, seperti si anak nakal, si pintar, si pemalu, atau si penurut. Meski terkadang terdengar sebagai panggilan sayang atau sekadar candaan, para psikolog anak memperingatkan bahwa label-label ini secara halus membangun identitas anak dengan cara yang membatasi.
Pemahaman mengenai dampak pelabelan dinilai sangat penting agar orang tua dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan seluruh anak di rumah tanpa membeda-bedakan potensi mereka. Salah satu dampak paling nyata adalah pelabelan dapat membatasi identitas seorang anak.
Ketika seorang anak dilabeli sebagai si pemalu, ia cenderung menghindari interaksi sosial karena merasa itulah definisi dirinya. Sebaliknya, anak yang dilabeli si cerdas sering kali tumbuh dengan ketakutan luar biasa terhadap kegagalan.
Label ini disebut dapat membuat anak merasa terjebak dan sulit menemukan aspek lain dari kepribadian mereka. Selain itu, pelabelan sering kali memicu perilaku yang memenuhi harapan tersebut atau self-fulfilling prophecy. Dilansir laman Times of India pada rabu (7/1/2026), anak yang dicap "nakal" mungkin terus berperilaku buruk karena merasa itulah yang diharapkan darinya, sementara si "bertanggung jawab" merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna setiap saat.
Pelabelan juga berisiko merusak rasa percaya diri dan menciptakan perbandingan saudara (sibling rivalry) yang tidak sehat. Memberikan label "si pintar" pada satu anak dan "si emosional" pada anak lainnya secara otomatis menciptakan persaingan dan rasa cemburu. Anak-anak akan merasa nilai diri mereka hanya didasarkan pada perbandingan dengan saudara lainnya. Lebih jauh lagi, label cenderung mengabaikan pertumbuhan dan perubahan alami anak. Anak-anak adalah makhluk yang terus berkembang; pelabelan seolah mengunci mereka dalam satu kotak statis dan mengabaikan potensi pertumbuhan mereka di masa depan.
Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak juga bisa terhambat akibat pelabelan ini. Anak yang dilabeli "kuat" mungkin akan memendam emosinya, sementara anak yang dianggap "bermasalah" akan merasa suaranya tidak pernah didengar.
Daripada mendefinisikan identitas anak secara permanen, para ahli menyarankan orang tua untuk lebih fokus mendeskripsikan perilaku spesifik. Memberikan umpan balik terhadap perilaku, bukan melabeli pribadi anak, memberikan pesan bahwa perilaku dapat diubah dan kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Dengan menghapus label, anak-anak akan merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri dan tumbuh sesuai dengan potensi asli mereka tanpa beban ekspektasi yang sempit.
.png)
1 day ago
1














































