Mifthahulzanah Ayu Purnama Sari
Pendidikan dan Literasi | 2026-06-25 18:00:35
Pengumuman Hasil Seleksi SNBT SNPMB 2025. Dokumentasi Penulis.
Setiap tahun, ratusan ribu siswa Indonesia memasuki sebuah arena yang dianggap sebagai gerbang menuju masa depan yang lebih baik: seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Tahun 2025 mencatat rekor baru dengan 860.976 pendaftar UTBK-SNBT, jumlah tertinggi sepanjang sejarah pelaksanaannya. Di balik angka yang besar tersebut, peluang diterima tetap terbatas. Tingkat kelulusan SNBT tahun 2025 hanya mencapai 29,43%, hampir sama dengan tahun 2024 sebesar 29,44%, sementara dalam lima tahun terakhir angka penerimaan tidak pernah melampaui 30%. Fakta ini menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga peserta harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak berhasil memperoleh kursi di PTN yang diimpikan.
Besarnya antusiasme terhadap PTN menunjukkan bahwa pendidikan tinggi masih dipandang sebagai jalan utama menuju kesuksesan. Nama kampus sering kali dianggap sebagai simbol prestise yang dapat menentukan masa depan seseorang. Tidak sedikit siswa yang sejak awal masa SMA telah diarahkan untuk berfokus pada satu tujuan, yaitu lolos ke PTN. Lingkungan sekolah, keluarga, hingga media sosial turut memperkuat pandangan tersebut. Akibatnya, masuk PTN tidak lagi sekadar menjadi pilihan pendidikan, melainkan berubah menjadi target sosial yang harus dicapai.
Ilustrasi tekanan akademik yang dialami pelajar dalam menghadapi persaingan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sumber: https://www.pexels.com
Tekanan untuk mencapai target tersebut tidak dapat dianggap sepele. Berbagai survei pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa kelas akhir SMA mengalami tingkat stres yang tinggi menjelang seleksi PTN. Kondisi ini diperparah oleh temuan bahwa kecemasan berlebih dapat menurunkan performa akademik hingga 25%. Ironisnya, semakin besar tekanan yang dirasakan siswa untuk berhasil, semakin besar pula kemungkinan kemampuan mereka tidak muncul secara optimal saat ujian berlangsung. Dalam situasi seperti ini, siswa tidak hanya berhadapan dengan soal-soal ujian yang sulit, tetapi juga dengan ketakutan akan kegagalan yang terus menghantui.
Penelitian mengenai kecemasan siswa dalam menghadapi SNBT menemukan bahwa rasa tidak percaya diri, kekhawatiran terhadap persaingan, dan keraguan terhadap kemampuan diri menjadi faktor utama yang memicu kecemasan. Persaingan yang sangat ketat membuat banyak siswa merasa bahwa peluang mereka terlalu kecil untuk berhasil. Perasaan tersebut sering kali berkembang menjadi tekanan psikologis yang menguras energi dan motivasi belajar. Tidak sedikit siswa yang akhirnya mengukur nilai dirinya berdasarkan hasil seleksi yang bahkan belum diumumkan. Ketika proses pendidikan berubah menjadi sumber kecemasan yang berkepanjangan, tujuan utama pendidikan untuk mengembangkan potensi diri justru mulai bergeser.
Masalah ini semakin kompleks ketika ambisi pribadi bercampur dengan ekspektasi keluarga dan lingkungan sosial. Banyak orang tua memiliki harapan besar agar anaknya diterima di PTN, terutama kampus-kampus yang dianggap bergengsi. Harapan tersebut tentu lahir dari niat baik, tetapi dalam beberapa kasus dapat berubah menjadi tekanan yang tidak disadari. Penelitian mengenai perfeksionisme dan kecemasan akademik menunjukkan bahwa individu yang memiliki standar keberhasilan sangat tinggi cenderung mengalami kecemasan yang lebih intens, terutama ketika harapan pribadi bertemu dengan ekspektasi keluarga. Akibatnya, keberhasilan tidak lagi dipandang sebagai pencapaian diri, melainkan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi demi memenuhi harapan orang lain.
Di sisi lain, masyarakat sering kali memberikan makna yang terlalu besar terhadap hasil seleksi PTN. Siswa yang berhasil diterima memperoleh berbagai bentuk apresiasi dan pengakuan sosial. Sebaliknya, mereka yang gagal sering kali dihadapkan pada pertanyaan, perbandingan, atau bahkan penilaian yang menyudutkan. Penelitian mengenai labeling sosial pada remaja menunjukkan bahwa label yang diberikan lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Remaja cenderung melihat dirinya sesuai dengan cara lingkungan memandang mereka. Ketika kegagalan masuk PTN dianggap sebagai tanda kurang pintar atau kurang berusaha, label tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang dalam jangka panjang.
Dampak yang Tidak Terlihat
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan masuk PTN bukan hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan konstruksi sosial mengenai makna kesuksesan. Dalam banyak kasus, siswa merasa bahwa masa depan mereka ditentukan oleh satu ujian dan satu hasil seleksi. Padahal, realitas menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak pernah ditentukan oleh satu jalur pendidikan saja. Banyak individu yang berhasil membangun karier, menciptakan inovasi, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui berbagai jalur yang berbeda. Namun, narasi semacam ini sering kali kalah kuat dibandingkan anggapan bahwa PTN merupakan satu-satunya tiket menuju masa depan yang cerah.
Dampak dari cara pandang tersebut dapat terlihat ketika siswa mengalami kegagalan. Menurut psikolog, stres yang berkepanjangan akibat kegagalan UTBK dapat memicu gangguan kecemasan, depresi, hingga berbagai keluhan psikosomatis seperti gangguan lambung, hipertensi, dan masalah kesehatan lainnya. Kegagalan yang seharusnya menjadi bagian normal dari proses belajar akhirnya dipersepsikan sebagai kegagalan hidup. Beban psikologis yang muncul sering kali bukan berasal dari hasil seleksi itu sendiri, melainkan dari rasa takut terhadap penilaian sosial yang mengikuti hasil tersebut.
Suasana kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Jakarta tahun 2025. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Memaknai Kembali Arti Kesuksesan
Masuk PTN tentu merupakan cita-cita yang baik dan layak diperjuangkan. Semangat untuk belajar, berkompetisi, dan meraih pendidikan terbaik adalah hal yang patut diapresiasi. Namun, di tengah tingginya persaingan dan tekanan yang menyertainya, penting bagi kita untuk kembali mempertanyakan alasan di balik perjuangan tersebut. Apakah ambisi masuk PTN benar-benar lahir dari mimpi dan tujuan pribadi, atau justru terbentuk oleh tuntutan sosial yang selama ini dianggap sebagai kebenaran?
Pertanyaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga kepada orang tua, guru, dan masyarakat. Pendidikan seharusnya membantu seseorang menemukan potensi terbaik dalam dirinya, bukan sekadar memenuhi standar keberhasilan yang ditetapkan lingkungan. Sebab pada akhirnya, nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama kampus yang berhasil dimasuki, melainkan oleh kemampuan untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan makna bagi kehidupannya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
2 hours ago
2










































