REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penyanyi Bernadya merilis album terbarunya, Semoga Hanya di Mimpi. Lewat album keduanya ini, penyanyi dan penulis lagu asal Surabaya ini mengajak pendengarnya melintasi batas antara kenyataan, ketakutan bawah sadar, dan fragmen-fragmen memori yang tersimpan di dalam mimpi.
Album Semoga Hanya di Mimpi menandai sebuah transisi artistik yang signifikan. Jika karya-karya terdahulunya dikenal lewat penulisan lirik yang lugas dan narasi patah hati yang konvensional, album kedua setelah Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan ini menawarkan struktur yang lebih tersamar, penuh metafora, dan menyimpan misteri yang perlu diurai perlahan oleh para pendengarnya.
Fondasi album Semoga Hanya di Mimpi berakar dari ketertarikan Bernadya pada estetika musik pop-rock dan alternatif awal era milenium. Respons publik terhadap track penutup di album terdahulunya dinilai menjadi indikator ada ruang bernostalgia yang ingin ia jelajahi lebih dalam.
"Aku merasa track terakhir di album sebelumnya membuat banyak orang bernostalgia. Mereka merasa terbawa kembali ke atmosfer musik tahun 2000-an dan band-band pada masa itu. Dari situ kami berpikir, sepertinya seru kalau kita berangkat dan mengerjakan album baru ini dengan kiblat musik era 2000-an," ujar Bernadya saat konferensi pers perilisan album di Jakarta pada Jumat (26/6/2026).
Alih-alih meramu warna musik tersebut sendirian, Bernadya memilih keluar dari zona nyaman. Ia membuka ruang kolaborasi yang sangat dinamis, menggandeng sederet produser, musisi, dan penulis lagu terkemuka Tanah Air untuk menerjemahkan memori kolektif era 2000-an dari sudut pandang masing-masing. Nama-nama seperti Randy Pandugo, Perunggu, Baskara Putra (Hindia), Enrico Octaviano, Dennis Ferdinand, Vega Antares, hingga Rizky Muhammad dilibatkan untuk memberikan warna yang berbeda pada tiap track.
Proses menyatukan banyak kepala ini sempat menghadirkan konflik internal bagi Bernadya dalam mempertahankan otentisitasnya. Menulis lagu bersama orang lain adalah wilayah baru yang menuntut kompromi, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai seorang solois.
"Jujur, awalnya aku merasa karakterku agak hilang, karena aku sebenarnya tidak biasa menulis lagu bersama orang lain. Ketika bertukar ide, tentu kita ingin ide tersebut bisa disetujui, sehingga secara tidak langsung aku berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang sekiranya mereka sukai. Namun, apa pun yang aku pikirkan dan apa pun masukan dari mereka, pada akhirnya yang menyanyikan adalah aku sendiri. Jadi di situlah karakter suaraku tetap terjaga dan tidak hilang," kata dia.
Meskipun melibatkan banyak perspektif yang membuat album ini terdengar kaya dan variatif, Bernadya merasa eksperimen ini tetap mempertahankan kejujuran emosional yang kuat. Ia menganalogikan dinamika kreatif ini sebagai sesuatu yang berjalan di jalurnya dengan baik, di mana ragam ide yang unik tetap bermuara pada hasil yang solid, tulus, dan tidak klise.
Ada pula dinamika menarik di balik penulisan materi album ini. Salah satu kolaborator, Baskara Putra (Hindia), sempat membagikan sebuah momen di balik layar saat mereka berada di studio bersama produser Enrico Octaviano. Pada satu titik, Bernadya sempat mengalami kebuntuan karena hidupnya sedang berjalan terlalu tenang.
"Waktu itu pas di studio Enrico, Bernadya sempat bilang, 'Gue nggak tahu nih mau nulis apa.' Gue bilang, 'Ya sudah, kenapa nggak itu saja yang lo tulis? Tulis kalau lo lagi nggak tahu mau nulis apa karena hidup lo lagi sangat tenang.' Tapi Bernadya menjawab, 'Gue takut kalau menulis hidup gue lagi baik-baik saja. Gue takut nanti malah datang musibah,'" ujar Baskara sambil berseloroh.
Sentimen personal seperti inilah yang pada akhirnya menjaga agar lagu-lagu di dalam album Semoga Hanya di Mimpi terasa dekat dengan psikologis pendengarnya. Seluruh eksplorasi emosi yang naik-turun dan penuh kejutan di album ini dijahit secara rapi melalui rangkaian delapan buah lagu.
Lagu-lagu yang ada di album kedua Bernadya yakni ”Laut yang Tenang”, “Peluk Aku Sekarang!” (Feat. Perunggu), “Lawan Waktu dan Jarak”, “Wanita Tak Punya Malu”, dan “Kita Buat Menyenangkan”. Ada juga “Menyenangkan Mengenalmu”, “Rabun Jauh”, “Tolong Bilang Ini Mimpi”, “Sebelum Jadi Panjang”, dan “Belum Sempat Kenal”.
.png)
3 hours ago
1
















































