Akhlak Mulia Cerminan Ketakwaan Seorang Muslim

1 hour ago 1

Image Universitas Ahmad Dahlan

Agama | 2026-07-27 10:18:32

Kajian Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Ustaz Fajar Rachmadhani (Foto. Mawar)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Ahad Pagi yang menghadirkan Ustaz Fajar Rachmadhani, Lc., M.Hum., Ph.D., anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mengangkat tema “Takwa dan Akhlak Mulia”, kajian ini mengajak jemaah memahami hakikat ketakwaan sekaligus pentingnya membangun akhlak sebagai fondasi kehidupan seorang muslim.

Dalam pemaparannya, Ustaz Fajar mengawali kajian dengan mengulas hadis ke-18 dalam kitab Arba'in An-Nawawi yang berbunyi, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Menurutnya, takwa bukan sekadar menjalankan ibadah, tetapi merupakan sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia mengutip penjelasan sahabat Umar bin Khattab yang mengibaratkan takwa seperti seseorang yang berjalan di jalan gelap penuh duri sehingga harus melangkah dengan penuh kewaspadaan agar tidak terluka.

“Takwa adalah bentuk kehati-hatian kita dalam menjalani kehidupan. Kita harus berhati-hati terhadap perkara yang halal, haram, maupun syubhat agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan pandangan Ali bin Abi Thalib bahwa takwa berarti takut kepada Allah. Namun, rasa takut tersebut bukan membuat seseorang menjauh dari Allah, melainkan semakin mendekat melalui ibadah dan amal saleh. Sementara itu, menurut Ibnu Umar, seseorang yang bertakwa tidak akan merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Lebih lanjut, Ustaz Fajar menegaskan bahwa ketakwaan harus diwujudkan dalam setiap kondisi, baik ketika berada di tengah keramaian maupun saat sendirian. Menurutnya, menjaga ketakwaan ketika tidak ada seorang pun yang melihat justru menjadi ujian terbesar bagi seorang hamba.

“Manusia mungkin bisa tertipu oleh pencitraan, tetapi Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang kita lakukan saat tidak ada orang lain,” ujarnya.

Selain membahas makna takwa, ia juga menyoroti pentingnya keikhlasan dalam beramal. Ia menjelaskan bahwa salah satu ciri orang yang ikhlas ialah kualitas amalnya tetap sama, baik ketika dipuji maupun dicela, serta ketika dilakukan secara terbuka maupun tersembunyi.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Fajar mengingatkan bahaya melakukan dosa secara terang-terangan atau membanggakan kemaksiatan. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw. menyebut perilaku tersebut sebagai mujahir, yaitu orang yang membuka sendiri aib dan dosa yang telah Allah tutupi.

“Kalau seseorang masih malu ketika berbuat dosa, berarti iman dan rasa malunya masih hidup. Namun ketika dosa dilakukan terang-terangan dan bahkan dibanggakan, itu menjadi tanda yang sangat berbahaya,” ungkapnya.

Sebagai solusi, ia mengajak jemaah untuk senantiasa memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penghapus dosa-dosa kecil. Ia menegaskan bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya bagi hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Pada akhir kajian, Ustaz Fajar menekankan bahwa akhlak mulia merupakan bukti nyata ketakwaan seseorang. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tinggi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak disertai akhlak yang baik.

“Orang pintar banyak, tetapi orang berilmu yang berakhlak mulia justru semakin langka. Karena itu, yang harus kita bangun bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan akhlak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik anak, tetapi lebih mengutamakan pembentukan akhlak, keimanan, dan kebiasaan beribadah sebagai bekal kehidupan dunia maupun akhirat. (Mawar)

uad.ac.id

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |