AGTI Ungkap Penyebab Dua Pabrik Garmen di Jateng Bisa Bangkrut

5 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto mengungkapkan industri garmen di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) seharusnya bisa lebih kompetitif. Komentar itu disampaikan menanggapi tutupnya dua pabrik garmen di Semarang dan Jepara yang menyebabkan lebih dari 1.400 pekerja terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Anne mengaku tidak mengetahui penyebab dua perusahaan garmen di Jateng, yakni PT Victory Apparel Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia Jepara, gulung tikar. Hal itu karena kedua perusahaan tersebut tidak tergabung dalam AGTI.

Kendati demikian, Anne mengatakan terdapat beragam faktor yang dapat menyebabkan sebuah perusahaan garmen mengalami kebangkrutan.

“Misalnya, mungkin ada hubungannya dengan komposisi pembelinya, yakni pembelinya bangkrut sehingga perusahaan garmen tidak dibayar. Pada masa pandemi Covid-19, banyak perusahaan garmen mengalami kesulitan keuangan karena brand atau retailer yang biasanya membeli tidak membayar karena mereka bangkrut,” ujarnya saat diwawancarai Republika, Ahad (26/7/2026).

Meski tidak mengetahui pasti penyebab kebangkrutan PT Victory Apparel Semarang dan PT Samwon Busana Indonesia Jepara, Anne menekankan besaran upah minimum di Jateng masih tergolong kompetitif.

“Seharusnya garmen di Jawa Tengah masih bisa lebih kompetitif karena upahnya tidak semahal di Jawa Barat, seperti Bandung, atau di Banten, seperti Kota Tangerang maupun Kabupaten Tangerang,” katanya.

Anne mengungkapkan AGTI memiliki cukup banyak anggota di Jateng. Sebanyak 30-an di antaranya berfokus pada ekspor. Menurut dia, anggota AGTI di Jateng yang berorientasi ekspor justru mengalami peningkatan penjualan.

“Kalau garmen sendiri, apalagi di Jawa Tengah, seharusnya tidak turun, tetapi naik, asalkan memasok ke global brand. Ke-30 anggota AGTI di Jateng semuanya mengalami kenaikan,” ujar Anne.

Dia menerangkan, pada kuartal I 2026 industri garmen di Tanah Air terbilang cukup baik dan mengalami peningkatan penjualan.

“Kuartal II stabil, bahkan ada yang cenderung turun karena harga bahan baku naik akibat perang. Padahal pasar tidak bisa menyerap kenaikan harga,” katanya.

Menurut Anne, anggota AGTI di Jateng yang masih berada pada level UMKM juga mengeluhkan kondisi bisnis mereka pada kuartal II 2026.

“Banyak sekali anggota UMKM kami yang mengeluh pada kuartal II. Kalau kuartal I, mereka bilang baik karena ada momentum Lebaran,” ujarnya.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |