1001 Cara Kelola Keuangan, 1001 Cerita Anak Muda

9 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Jangan sampai semua gaji habis dipakai untuk jajan.” Nasihat sederhana itu masih diingat Eri Kurniawati setiap kali menerima penghasilan. Sejak mulai bekerja sebagai penjaga toko di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, perempuan berusia 21 tahun itu membiasakan diri menyisihkan sebagian gajinya sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.

Kebiasaan tersebut sempat diuji ketika Eri menerima gaji pertamanya. Keinginannya sederhana, membeli telepon genggam baru. Ponsel lamanya sudah tidak lagi mendukung aktivitas sehari-hari, mulai dari berkomunikasi hingga mengakses berbagai aplikasi yang dibutuhkan untuk bekerja.

Meski begitu, Eri tetap berusaha tidak melupakan pesan orang tuanya. Setelah membeli kebutuhan yang paling mendesak, ia mulai membangun kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilannya secara rutin.

“Dari dulu orang tua memang selalu ngingetin jangan sampai semua gaji habis dipakai jajan. Makanya sekarang saya usahain nyisihin sekitar Rp 300 ribu tiap bulan buat dana darurat. Biar kalau ada kebutuhan mendadak, saya enggak bingung lagi,” cerita Eri kepada Republika, pertengahan Juli lalu.

Bagi Eri, menyisihkan uang bukan lagi sekadar menabung. Dana tersebut menjadi bantalan ketika menghadapi kebutuhan tak terduga sekaligus bekal untuk mewujudkan rencana-rencana yang ingin dicapai pada masa depan.

Cara mengelola uang pun berubah seiring perkembangan teknologi. Jika dulu menabung identik dengan datang ke kantor cabang bank, kini sebagian besar aktivitas keuangan dapat dilakukan melalui telepon genggam.

Karena alasan itu, Eri memilih menggunakan blu by BCA Digital sebagai pendamping aktivitas finansialnya. Menurutnya, seluruh transaksi dapat dilakukan secara praktis melalui aplikasi tanpa harus datang ke bank. Ia juga memanfaatkan sejumlah fitur untuk membantu mengatur tabungan sesuai tujuan keuangan.

“Saya pakai blu karena semua bisa lewat HP, jadi lebih praktis dan nggak ada biaya admin. Sekarang saya juga coba buka bluValas. Saya kepikiran nabung yen sama dolar Singapura buat rencana ke depan,” katanya.

Keinginan Eri menyimpan valuta asing bukan tanpa alasan. Meski belum memiliki jadwal pasti, ia berharap suatu hari dapat bepergian ke luar negeri. Baginya, menyiapkan dana sedikit demi sedikit terasa lebih ringan dibandingkan harus mengumpulkan seluruh kebutuhan sekaligus ketika waktunya tiba.

Cerita Eri mencerminkan perubahan cara generasi muda memandang uang. Penghasilan bukan lagi semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan juga dipersiapkan untuk menghadapi berbagai kemungkinan pada masa depan. Mereka mulai menyusun tujuan keuangan, membangun dana darurat, hingga memanfaatkan digital banking yang dinilai lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup sehari-hari.

Perubahan kebiasaan tersebut bukan hanya dirasakan Eri. Di berbagai daerah, semakin banyak anak muda mulai memanfaatkan layanan keuangan digital sebagai bagian dari upaya mengelola keuangan secara lebih terencana. Kebiasaan itu menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.

Perubahan cara generasi muda mengelola uang juga tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Angka tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang tidak hanya mengenal produk dan layanan keuangan, tetapi juga mulai memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi OJK, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan perlu diikuti dengan semakin luasnya akses terhadap layanan keuangan yang sehat dan berkelanjutan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan OJK terus mendorong berbagai kebijakan untuk memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat ekosistem keuangan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Optimisme itu juga tercermin dalam survei Populix Consumer Confidence Index. Mayoritas responden tetap yakin kondisi keuangan mereka akan membaik dalam beberapa bulan mendatang. Optimisme tersebut ditopang oleh semakin terbiasanya masyarakat menyusun anggaran, menabung, serta memanfaatkan layanan keuangan digital untuk mengelola pengeluaran.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |