ivan adilla
Agama | 2026-07-26 00:24:00
Ivan Adilla
Dosen di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang
Surau merupakan institusi pendidikan tradisional Minangkabau. Anak-anak lelaki yang telah baligh tidur di surau. Di sana mereka belajar bersosialisasi, pengetahuan adat, berlatih silat, dan tentu juga belajar agama. Dalam perjalanannya, beberapa surau dikenal karena keahlian muridnya dalam bidang ilmu agama, juga dalam keahlian silat. Beberapa surau kini masih aktif, dan menjadi tempat beribadah bagi pengikut aliran tarikat tertentu.
Sistem dan sarana pendidikan kini telah berbeda. Tak ada lagi remaja yang mengaji, berlatih silat atau tidur di surau. Anak-anak kini mengaji sore hari di Taman Pengajian Al-Quran (TPA). Untuk belajar agama Islam orang belajar di madrasah atau pesantren. Yang berminat berlatih beladiri akan berlatih di berbagai perguruan beladiri modern dengan sarana yang lengkap.
Pejalan kaki menyeberangi di depan Patung Raja Sejong, Seoul, Korea Selatan. Raja Sejong merupakan guru bangsa Korea yang mengciptakan aksara Hangeoul dan merupakan pahlawan utama bangsa tersebut. (Foto: Ivan Adilla)
Barangkali saya termasuk generasi terakhir yang masih sempat mengalami tidur dan belajar mengaji di surau. Tentu saja banyak hal menarik yang bisa dicatat dari pola pengajaran di lembaga pendidikan tradisional ini. Salah satunya adalah metode pengajarannya yang menekankan pada pemahaman untuk menguatkan keyakinan. Guru tidak hanya memberi pengetahuan, tapi juga membimbing agar murid memahami dan meyakini ilmu yang didapatkan. Itulah yang saya saksikan ketika suatu saat ada seorang jamaah dari kampung lain yang bertanya tentang zakat anak.
Surau itu hanyalah surau kampung biasa. Namanya Surau Parak Pisang, karena lokasi itu awalnya merupakan kebun pisang. Sejak menjelang kemerdekaan hingga awal 1960-an, surau itu dipimpin oleh seorang ulama yang cukup terpandang. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah di kampung sekitar maupun kabupaten lain yang lebih jauh.
Saat saya mengaji di sana, pendiri surau itu telah meninggal. Pimpinan surau dilanjutkan oleh salah seorang murid dari keluarga pendirinya. Meskipun tidak seramai sebelumnya, surau itu tetap menjadi rujukan tentang masalah agama bagi masyarakat sekitarnya. Tiap kali ada peringatan hari besar keagamaan, jamaahnya dari berbagai kampung datang untuk merayakan. Murid-murid yang pernah mengaji di sana datang bersama keluarga mereka, sehingga surau seringkali tidak cukup menampung jumlah jamaah.
Suatu hari, surau kami kedatangan tamu. Seorang lelaki bermuka tegang dengan wajah kusut. "Engku. Saya mau menzakatkan anak saya", kata tamu itu kepada guru kami.
"Tentu saja boleh, kalau anak Sutan sudah cukup senisab...", jawab Engku Guru, dengan wajah tenang.
"Jadi, berapa nisab untuk wajib menzakatkan anak itu, Engku?"
Engku Guru mengambil kopiah, kemudian mengusap-usap sambil menjentik-jentiknya.
"Karena jarang yang menzakatkan anak, saya juga ragu tentang nisabnya", jawab Engku Guru tak lama kemudian. "Datanglah Sutan hari Minggu depan. Bersama-sama kita cari kepastiannya".
Minggu, selepas subuh, saya ditugaskan membantu Engku Guru menyortir dan menyusun buku-buku dari perpustakaan surau. Beragam bentuk dan format buku itu. Ada yang berukuran folio, kuarto, dan lebih kecil lagi. Sampulnya ada yang dari kertas karton, ada juga yang dari kulit kibas. Kebanyakan berbahasa Arab, sebagian berbahasa Melayu dengan aksara Arab-Melayu. Engku Guru memeriksa tiap buku, menyelipkan kertas kecil untuk menandai bab yang dibutuhkan, dan kemudian saya menyusunnya dengan rapi di tikar.
Setelah buku-buku itu selesai ditandai dan tersusun rapi, saya diminta membeli ketupat pitalah—ketupat sayur yang dinamai berdasarkan daerah asalnya. Minggu adalah hari pasar di kampung kami. Katupek pitalah dengan sayur nangka dan kubis yang berkuah kental merupakan sarapan favorit bagi banyak orang. Kami sarapan sambil menunggu.
Sekitar jam 09.00, tamu yang kami tunggu datang. Setelah minum kopi dan berbincang sebentar, maka Engku Guru dan tamu itupun mulai memeriksa buku buku yang disusun rapi. Saya duduk dekat tangga memperhatikan Engku Guru dan tamunya. Sebagai anak-anak, saya tak tahu banyak apa yang dibincangkan kedua orang itu. Engku Guru membuka bab yang ditandai. menunjukkan dan menjelaskan isinya pada tamu. Tiap buku yang selesai diperiksa, disisihkan letaknya. Menjelang zuhur, Engku Guru selesai memeriksa seluruh buku itu. Saya kemudian ditugaskan meletakkan buku-buku itu kembali ke kamar perpustakaan. Hanya meletakkan dan menyusunnya. Saat itu saya belum mengerti bagaimana menyusunnya dalam lemari buku besar di ruang perpustakaan. Di ruang itu ada tiga lemari tinggi penuh buku tersusun rapi.
Usai zuhur dan makan siang, Engku Guru berbincang dengan tamunya.
"Telah sama-sama kita periksa seluruh kitab tentang zakat. Sutan lihat sendiri, tak ada kitab yang mewajibkan zakat anak. Apalagi menyebutkan nisab untuk anak", Engku membuka pembicaraan.
"Jadi apa yang dikatakan orang kampung saya itu bohong saja, Engku?"
"Saya tak tahu, apakah dia bohong atau tidak. Mungkin juga dia punya kitab lain tentang zakat", jawab Engku. "Tapi sejauh kaji yang saya terima dan kitab yang saya baca, tak ada zakat anak".
"Jadi bagaimana baiknya, Engku?"
"Baiknya? Sutan kerjakan apa yang Sutan yakini. Jangan hanya mendengar kata orang. Kalau Sutan yakin pada apa yang dikatakan orang kampung Sutan, kerjakan. Tapi kalau tidak yakin, jangan dikerjakan".
"Nah, kalau menurut Engku?"
"Ulama itu adalah pewaris nabi. Saya hanya menyampaikan apa yang diwahyukan Tuhan kepada nabi. Karena kita tidak menemukan ayat dan sunnah tentang zakat anak, apa yang harus saya sampaikan pada Sutan?" Tamu itu kemudian menyalami Engku Guru dan mohon pamit.
Beberapai mahasiswa Korea sedang mewawancarai pengurus masjid untuk mengetahui tentang agama Islam di Seoul Central Mosque, Itaewon, Seoul, Korea Selatan. (Foto: Ivan Adilla)
Belasan tahun kemudian, saya bertanya pada Engku Guru, kenapa beliau mau bersusah payah mengeluarkan kitab-kitab untuk memberitahu tamunya bahwa zakat anak itu tak ada dalam hukum Islam. Bukankah beliau bisa saja langsung memberitahukan hal itu kepada tamunya?
"Beribadah itu harus dengan keyakinan. Keyakinan didapat melalui ilmu. Ilmu pun perlu bukti dan alasan. Kitab-kitab itu berisi bukti dan alasan agar orang bisa meyakini ilmu", jawab Engku Guru. Hingga saat ini, petuah itu masih saya ingat.
Surau tempat saya mengaji dulu telah tidak aktif lagi. Engku Guru telah lama tiada. Sekarang di kampung kami orang lebih senang mendengarkan saja petuah juru dakwah yang berkeliling kampung menyampaikan ceramah-ceramah lucu dan menyenangkan. Sementara kitab-kitab agama dibiarkan berdebu, tak tersentuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
.png)
3 hours ago
1













































