Trump Kembali Ancam Binasakan Iran, Isyarat Pakai Bom Nuklir?

8 hours ago 3

Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia sedang menghadapi keputusan krusial mengenai apakah akan "membinasakan" Iran. Komentar-komentarnya belakangan mencerminkan rasa frustasi karena tak bisa menundukkan Iran lewat serangan bersama Israel yang dimulai Februari lalu.

"Saya akan mengambil keputusan besar. Apakah saya ingin turun tangan dan membinasakan mereka atau tidak?" ujar Trump kepada Axios.

"Ini keputusan besar. Apa pun bisa terjadi dengan saya," tambahnya, seraya menyebutkan bahwa Iran menjalin kontak langsung dengan AS dan bahwa Teheran ingin mencapai kesepakatan.

Trump mengatakan bahwa tidak ada kapal yang mencapai Iran sejak blokade AS diberlakukan kembali pada bulan Juli, setelah nota kesepahaman antara kedua negara gagal mengakhiri konflik tersebut.

Serangan AS dan Israel ke Iran sejak Februari lalu telah membunuh sekitar 3.500 warga Iran. Serangan AS yang menewaskan seratus lebih anak-anak di Minab juga telah diklasifikasikan sebagai kejahatan perang oleh Komisi HAM PBB.

Iran kemudian membalas menyasar pangkalan-pangkalan AS di wilayah Teluk. Laporan terbaru Pentagon menyatakan ratusan bangunan aset militer AS serta puluhan pesawat militer mereka hancur akibat serangan balasan itu.

Serangan AS-Israel juga memicu eskalasi di wilayah lain di Timur Tengah seperti Lebanon yang dibombardir Israel karena membela Iran; serta konflik Saudi-Houthi yang kembali meningkat setelah bandara Sanaa dibom untuk mencegah ketibaan delegasi Iran di Yaman. Perkiraan total korban jiwa dari eskalasi tersebut berkisar antara 8.000 hingga 10.600 orang di seluruh Timur Tengah.

Iran juga mencengkeram Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel. Penasihat politik Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lengser dari jabatannya. IRGC hingga kini masih menyerang kapal-kapal yang mencoba melintas di jalur yang tidak diizinkan oleh Iran di Selat Hormuz.

"Pejuang kami tidak akan membuka Selat Hormuz hingga Trump dan Netanyahu diturunkan dari kekuasaan," kata Zoghadr dikutip Apa, Kamis (17/9/1026).

Zolghadr menggambarkan penutupan Selat Hormuz sebagai tahap pertama pembalasan dari Iran. Ia mengatakan Iran berniat untuk membalaskan dendam pihak-pihak yang terbunuh dalam perang dan menggambarkan perlawanan Iran selama 200 hari terakhir sebagai bukti upaya-upaya untuk mengalahkan perlawanan itu telah gagal.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |