REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang Rusia-Ukraina memasuki tahun kelima dengan membawa pelajaran yang tidak seluruhnya nyaman bagi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Drone berharga ribuan dolar dapat mengubah cara tank bergerak, jaringan peperangan elektronik dapat memutus komunikasi, rudal dan pesawat nirawak menyerang jauh di belakang garis depan, sementara persediaan amunisi dan sistem pertahanan udara dikonsumsi pada tingkat yang jauh melampaui banyak perencanaan militer masa damai.
Pertanyaan mengenai kesiapan NATO kembali mengemuka pada Kamis (17/9/2026), ketika Rusia melancarkan gelombang besar serangan rudal dan drone terhadap Kyiv dan sejumlah wilayah Ukraina. Polandia mengerahkan pesawat tempurnya dan sementara menutup bandara Rzeszow serta Lublin sebagai tindakan pengamanan, meski Warsawa kemudian mengatakan tidak terjadi pelanggaran wilayah udaranya. Reuters pada Kamis, 17 September 2026, melaporkan serangan Rusia mengenai sedikitnya delapan wilayah Ukraina dan kembali menunjukkan intensitas serangan jarak jauh yang harus dihadapi pertahanan modern.
Pada hari yang sama, Reuters menerbitkan laporan khusus mengenai pertanyaan yang kini semakin sering muncul di kalangan pejabat dan analis pertahanan: jika NATO suatu hari harus menghadapi perang berintensitas tinggi seperti Ukraina, apakah struktur militernya sudah siap?
Lima pejabat pertahanan Ukraina dan Barat mengatakan kepada Reuters pada Kamis, 17 September 2026, perkembangan medan tempur bergerak begitu cepat sehingga sebagian senjata dan taktik NATO berisiko tertinggal. Ukraina dapat mengubah perangkat lunak, taktik, dan teknologi dalam hitungan pekan, sedangkan sistem pengadaan pertahanan di negara-negara NATO sering bergerak dalam hitungan tahun bahkan dekade.
Jawabannya tidak sederhana. NATO memiliki kekuatan udara, ekonomi, teknologi, dan gabungan militer yang sangat besar. Aliansi juga telah meningkatkan belanja pertahanan, memperkuat sayap timur, menambah produksi senjata dan mulai mengadopsi pelajaran Ukraina. Tetapi perang tersebut memperlihatkan sejumlah celah yang belum seluruhnya tertutup: pertahanan udara, kemampuan melawan drone murah dalam jumlah massal, persediaan amunisi, kecepatan inovasi, logistik, perlindungan pasukan, hingga ketergantungan Eropa terhadap kemampuan militer Amerika Serikat.
Medan Perang Berubah Lebih Cepat
Salah satu perubahan paling mencolok datang dari drone. Perang Ukraina memperlihatkan pesawat nirawak kecil tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pengintai. Drone FPV dapat memburu kendaraan, personel dan posisi artileri, sementara drone serang satu arah dapat dikirim dalam jumlah besar untuk menekan pertahanan udara jauh di belakang medan tempur.
International Institute for Strategic Studies (IISS), dalam laporan The Defence of Europe in a New Era yang diterbitkan Rabu, 16 September 2026, menyebut medan Ukraina telah berkembang menjadi lingkungan dengan pengawasan hampir terus-menerus. Di sejumlah bagian garis depan, daerah yang dapat dijangkau pengamatan dan serangan drone telah berkembang menjadi semacam kill zone puluhan kilometer. Kondisi itu memaksa pasukan menyebar, bersembunyi, memperkuat kamuflase dan mengurangi konsentrasi besar personel maupun kendaraan.
Ini menjadi masalah bagi militer yang selama puluhan tahun melatih pengerahan satuan, kendaraan dan pusat logistik dengan asumsi tertentu mengenai perlindungan udara.
Komandan Garda Nasional Ukraina Oleksandr Pivnenko menceritakan pengalamannya melihat personel asing yang menjalani pelatihan bersama pasukannya. Mereka dinilai baik dalam menyerbu posisi, tetapi kebiasaan medan perang modern belum selalu melekat.
“Mereka bagus dalam menyerbu posisi,” kata Pivnenko kepada Reuters, sebagaimana diberitakan Kamis, 17 September 2026. Namun, ia mempertanyakan apa yang terjadi apabila terdapat drone di atas kepala sementara satuan di darat bahkan tidak mengawasi langit.
Persoalannya bukan berarti tentara NATO sama sekali tidak memahami drone. NATO justru kini menjalankan berbagai program drone dan counter-drone. Masalah yang disorot Ukraina adalah kecepatan perubahan: begitu sebuah sistem pertahanan berhasil, pihak lawan mengganti frekuensi radio, perangkat lunak, ketinggian terbang, taktik serangan atau jenis drone. Siklus inovasi itu dapat berlangsung dalam hitungan pekan.
.png)
8 hours ago
2
















































