Tirakat Santri dan Program MBG

7 hours ago 5

Oleh: Kholilurrohman, Dosen UIN Raden Mas Surakarta dan Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Airlangga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada pertanyaan yang mulai pelan-pelan muncul di lingkungan pesantren apakah Program Makan Bergizi Gratis atau MBG akan menggerus tradisi tirakat santri? Pertanyaan itu tidak sederhana. Sebab, dalam sejarah pesantren, mencari ilmu tidak pernah hanya dipahami sebagai kegiatan membaca kitab, menghafal bait, atau duduk di ruang belajar. Menuntut ilmu juga berarti mendidik diri.

Santri diajak menata niat, menghormati guru, menjaga adab, mengurangi tidur, memperbanyak doa, dan dalam tradisi tertentu menjalani riyadhah puasa. Ada santri yang dibiasakan puasa Senin-Kamis. Ada yang menjalani puasa Nabi Daud: sehari puasa, sehari berbuka. Tentu dengan tetap memperhatikan hari-hari yang diharamkan berpuasa, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari tasyrik. Dalam bayangan lama pesantren, lapar bukan sekadar kosongnya perut. Lapar dapat menjadi jalan untuk menundukkan nafsu.

Dalam dunia pewayangan dikenal laku tapa brata. Dalam kisah-kisah klasik, seseorang yang ingin memperoleh ilmu tinggi harus terlebih dahulu menjalani laku prihatin. Bahkan film-film kungfu yang dulu ditayangkan di televisi nasional sering menggambarkan hal serupa: ilmu besar tidak jatuh ke tangan orang yang manja. Ilmu datang kepada mereka yang sanggup menahan diri.

Lalu datanglah MBG

Program ini membawa nalar baru: anak yang belajar harus cukup gizi. Negara melihat bahwa banyak anak Indonesia datang ke sekolah dalam keadaan tidak sepenuhnya siap secara tubuh. Ada yang tidak sarapan. Ada yang makan seadanya. Ada yang orang tuanya bekerja keras, tetapi penghasilannya belum cukup untuk menyediakan makanan bergizi setiap hari.

Dalam konteks itu, MBG tentu memiliki tujuan mulia. Badan Gizi Nasional menyatakan bahwa program ini menjangkau peserta didik, termasuk santri di pesantren dan lembaga pendidikan nonformal, sebagai bagian dari komitmen negara terhadap pemenuhan gizi yang setara. Kementerian Agama juga menilai MBG dibutuhkan pesantren dan satuan pendidikan keagamaan, bahkan membuka ruang bagi pesantren besar untuk mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi secara mandiri.

Namun, di sinilah kita perlu jernih. MBG tidak seharusnya dibaca sebagai lawan tirakat. Sebaliknya, tirakat juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan santri kekurangan gizi.

Dalam kajian sufisme, tirakat bukan seni melemahkan tubuh. Tirakat adalah seni mengendalikan nafsu. Yang dilawan bukan nasi, telur, ikan, sayur, atau buah. Yang dilawan adalah kerakusan, kemalasan, kemewahan, pemborosan, dan ketergantungan manusia pada kenikmatan.

Maka, makanan bergizi bukan ancaman bagi laku ruhani santri. Tubuh yang sehat justru menjadi kendaraan bagi ilmu dan ibadah. Santri yang gizinya cukup akan lebih kuat mengaji, lebih mudah berkonsentrasi, lebih tahan mengikuti kegiatan pesantren, dan lebih siap menjaga amanah sebagai pencari ilmu.

Alquran mengingatkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” Pesan ayat ini menarik. Islam tidak melarang makan. Islam melarang berlebihan. Islam tidak memusuhi tubuh. Islam justru mengajarkan agar tubuh dijaga sebagai amanah.

Karena itu, MBG di pesantren sebaiknya tidak hanya menjadi program makan. Ia harus menjadi madrasah adab. Santri makan bergizi, tetapi tetap diajari bersyukur. Santri menerima makanan, tetapi tidak boleh mencela. Santri antre, tidak berebut. Santri mengambil secukupnya, tidak membuang. Santri membersihkan tempat makan, bukan meninggalkan sisa begitu saja. Di situlah MBG dapat bertemu dengan tirakat.

Tirakat santri di era MBG tidak harus selalu berupa lapar. Tirakat dapat berupa mengurangi jajan berlebihan, tidak memilih-milih makanan, tidak membuang rezeki, menjaga kebersihan, membantu dapur pesantren, berbagi dengan teman, dan menata niat makan agar tubuh kuat untuk belajar serta beribadah.

Dengan cara itu, MBG tidak merusak tirakat. MBG justru bisa menjadi ruang baru untuk menanamkan tirakat yang lebih substantif. Bukan tirakat yang membuat badan lemah, melainkan tirakat yang membuat jiwa tidak rakus.

Namun, kritik terhadap pelaksanaan MBG juga tidak boleh diabaikan. Program sebesar ini tentu membawa risiko besar bila tata kelolanya tidak tertib. Ada masalah keterlambatan distribusi, kualitas makanan, keamanan pangan, hingga kasus gangguan kesehatan. BGN bahkan menghentikan sementara sekitar 240 SPPG di berbagai daerah karena belum memenuhi standar, termasuk terkait sertifikat higiene sanitasi dan kondisi ruang yang belum memadai.

Ini menunjukkan bahwa niat baik belum cukup. Program yang baik harus dijalankan dengan tata kelola yang baik pula. Dalam Islam, amanah tidak hanya diukur dari tujuan, tetapi juga dari cara melaksanakannya. Makanan yang diniatkan untuk menyehatkan anak tidak boleh dikelola secara sembarangan. Dapur harus bersih. Bahan harus layak. Distribusi harus tepat waktu. Pengawasan harus nyata. Bila terjadi masalah, jangan ditutup-tutupi.

Ada pula kegelisahan lain: nasib warung rakyat. Sebelum MBG hadir, banyak warung kecil di sekitar sekolah hidup dari anak-anak yang membeli makan. Ada ibu-ibu yang berjualan nasi bungkus. Ada pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan harian pada kantin sekolah. Bila MBG dikelola terlalu sentralistik dan hanya memberi ruang kepada pemodal besar, maka program gizi dapat melukai ekonomi kecil.

Padahal, MBG bisa menjadi berkah ganda. Anak-anak mendapat makanan bergizi, sementara petani, peternak, nelayan, koperasi, pesantren, dan warung rakyat ikut bergerak. Pemerintah sendiri mencatat keterlibatan puluhan ribu UMKM dalam ekosistem MBG, dengan sebagian besar kebutuhan bahan baku dipasok pelaku usaha lokal. Namun, keterlibatan itu harus benar-benar dirasakan oleh pelaku kecil di sekitar sekolah dan pesantren, bukan hanya menjadi angka di atas kertas.

Di sinilah pesantren memiliki peluang besar. Bila pesantren diberi ruang mengelola dapur MBG secara mandiri, program ini bisa menjadi bagian dari kemandirian ekonomi pesantren. Santri mendapat makanan bergizi. Dapur pesantren hidup. Petani sekitar terserap. Warung rakyat dilibatkan. Pengasuh dapat mengawasi langsung mutu makanan. Nilai tirakat pun tetap bisa ditanamkan melalui adab makan, syukur, qana’ah, dan khidmah.

Maka, pertanyaan awal perlu dijawab ulang. Apakah MBG mengoyak tirakat santri? Tidak harus. Yang dapat mengoyak tirakat bukan makanan bergizi, melainkan cara pandang yang menjadikan makan sekadar konsumsi tanpa adab. Sebaliknya, yang dapat merusak MBG bukan tradisi tirakat, melainkan tata kelola yang abai terhadap mutu, kebersihan, keadilan ekonomi, dan kearifan pesantren.

Santri tidak perlu dibiarkan lapar agar disebut kuat. Tetapi santri juga tidak boleh dibuat manja hanya karena mendapat makan gratis. Di antara dua kutub itulah pesantren perlu mengambil jalan tengah: badan santri harus sehat, batinnya tetap tirakat.

MBG menguatkan jasmani. Tirakat menghaluskan ruhani. Bila keduanya dipertemukan dengan adab, pesantren tidak kehilangan tradisinya, dan negara tidak kehilangan amanahnya. Makan bergizi menjadi jalan sehat. Tirakat menjadi jalan selamat. Bismillah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |