Teror Legenda Minahasa, Film Songko Siap Menghantui Bioskop

3 hours ago 2

Para pemain film Songko. Film ini akan menyapa bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah produksi Dunia Mencekam Studio bersama Santara menggelar gala premiere untuk karya terbaru mereka berjudul Songko di Metropole XXI, Jakarta. Film ini membawa penonton terbang ke masa lalu, tepatnya tahun 1986, di sebuah desa di Tomohon yang diselimuti kabut ketakutan.

Songko mengisahkan teror mahluk misterius yang haus akan darah suci perempuan muda demi mencapai kekekalan. Film ini tak sekadar mengandalkan jumpscare. Kekuatan utamanya terletak pada komitmen para sineas untuk menjaga keaslian cerita.

Produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, turun langsung mewawancarai kepala adat dan warga lokal di Tomohon serta Manado untuk memastikan visual, gaya bahasa, hingga busana yang dikenakan para aktor tetap sesuai dengan akar budayanya. Ambisi untuk menghadirkan atmosfer yang nyata pun diwujudkan melalui pembangunan set desa yang masif secara khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon.

Area yang semula kosong diubah menjadi desa lengkap yang tampak "bernyawa" sekaligus mencekam. Menariknya, lokasi syuting ini masih berdiri kokoh hingga sekarang dan menjadi destinasi wisata dadakan bagi warga yang ingin berfoto, menyisakan jejak fisik dari sebuah proses kreatif yang melelahkan.

Keterlibatan putra-putri daerah menjadi nyawa kedua bagi film ini. Sebanyak 60 persen jajaran pemain dan kru merupakan talenta lokal asal Manado dan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan visi eksekutif produser Santara, Whisnu Baker.

“Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” ujar Whisnu dikutip dari siaran pers saat gala premiere di Jakarta.

Sebagai sutradara, Gerald Mamahit memiliki sudut pandang yang lebih dalam soal rasa takut. Baginya, mahluk Songko hanyalah pemantik, sementara teror sesungguhnya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri.

“Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan—horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |