Tak Sepakat dengan AS, Saudi Lawan Upaya Trump Blokade Pelabuhan Iran

5 hours ago 2

President Donald J. Trump (L) berjabat tangan dengan putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Perang AS-Israel melawan Iran dan penutupan Selat Hormuz telah 'menghancurkan' status quo yang berlaku di antara negara produksi minyak dan gas Timur Tengah selama beberapa dekade.

Sekutu Amerika di Teluk, Arab Saudi, dilaporkan khawatir bahwa langkah Presiden Donald Trump untuk memblokir pelabuhan Iran justru dapat memperburuk situasi.

Riyadh dilaporkan 'mendesak' pemerintahan Donald Trump untuk 'menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan'. Demikian menurut laporan Wall Street Journal.

Para pejabat Arab mengatakan kepada publikasi Amerika tersebut bahwa Arab Saudi khawatir langkah Trump untuk menutup pelabuhan Iran dapat menyebabkan Teheran meningkatkan eskalasi dan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya.

Keputusan AS untuk memblokade semua pengiriman Iran keluar atau masuk Selat Hormuz bertujuan untuk meningkatkan tekanan pada ekonomi Iran yang sudah lumpuh. Tetapi Arab Saudi dilaporkan telah memperingatkan AS bahwa Iran mungkin akan membalas dengan menutup Bab al-Mandeb—titik rawan di Laut Merah yang sangat penting untuk ekspor minyak kerajaan yang tersisa.

Hubungan Saudi-Iran boleh dibilang maju mundur. Sebelum perang yang dkobarkan AS dimulai, kedua negara sempat menjalin hubungan intensif. Namun hubugan itu terputus setelah Teheran melancarkan serangan ke Riyadh yang menjadi basis pangkalan AS di Saudi.

Belakangan setelah ketegangan sedikit mereda, Iran dan Saudi kembali menjalin komunikasi.  Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, membahas perkembangan setelah pembicaraan Iran-AS di Islamabad selama percakapan telepon. 

Percakapan tersebut dilakukan setelah pembicaraan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

“Selama percakapan telepon, mereka membahas perkembangan terbaru setelah negosiasi perdamaian antara Iran dan AS,” kata kementerian Saudi dalam sebuah pernyataan.

Pembicaraan di Islamabad, yang berlangsung dari Sabtu hingga Ahad pagi. Ini adalah pertemuan langsung AS-Iran pertama dalam lebih dari satu dekade dan diskusi tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam Iran tahun 1979.

Kekhawatiran di Teluk

Selama enam minggu perang, Teheran kini telah menunjukkan kemampuan dan kemauannya untuk menutup jalur air penting dan menyerang infrastruktur vital di seluruh wilayah.

Kemampuan Iran secara fundamental mengubah perhitungan risiko bagi negara-negara tetangganya dan membahayakan strategi minyak dan gas jangka panjang negara-negara Teluk.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |