Tak Ada Pemain Kulit Hitam di Timnas Argentina, Ternyata Bukan Kebetulan

2 weeks ago 35

REPUBLIKA.CO.ID, ATLANTA – Insiden rasialis yang melibatkan pendukung tim nasional sepak bola Argentina kembali terjadi di sela pelaksanaan Piala Dunia 2026. Ternyata, rasialisme telah lama berakar di kebijakan negara dan menjelaskan mengapa tak ada satupun pemain Argentina berkulit gelap.

Kontroversi rasisme perdana mencuat setelah pelatih Mesir, Hossam Hassan, melakukan gestur yang ditujukan kepada Lionel Messi. Sang pelatih sangat geram setelah timnya menelan kekalahan 3-2 dari Argentina akibat gol di menit-menit akhir; Hassan kemudian mengecam adanya "ketidakadilan" yang menimpa timnya setelah gol mereka dianulir oleh VAR.

Hassan serta beberapa pemain dan staf Mesir memprotes wasit asal Prancis, Francois Letexier, di pinggir lapangan, yang berujung pada dikeluarkannya lima kartu kuning dan satu kartu merah oleh sang wasit. Namun, Hassan meningkatkan ketegangan dengan menyilangkan kedua lengannya membentuk huruf X.

Gestur yang diperkenalkan pada tahun 2024 ini merupakan 'Gestur Anti-Rasisme' resmi FIFA, yang ditujukan bagi para pemain dan pelatih untuk mengisyaratkan adanya pelecehan rasialis terhadap perangkat pertandingan. Hassan melakukan gestur tersebut dalam beberapa kesempatan—termasuk saat Messi berupaya meredakan ketegangan—dan ia pun diganjar kartu akibat perilakunya itu. Seorang anggota staf pendukung tim Mesir bahkan berlari kencang ke tengah lapangan untuk mengejar Messi, namun ia harus ditahan oleh rekan-rekan setimnya, termasuk Hassan.

FIFA juga menyatakan telah memulai penyelidikan terkait dugaan insiden pelecehan rasialis yang melibatkan YouTuber IShowSpeed dan seorang pendukung Argentina dalam pertandingan yang dimenangkan Argentina dengan skor 3-2 atas Tanjung Verde di Piala Dunia pada hari Jumat. 

Saat itu, IShowSpeed sedang melakukan siaran langsung pertandingan dan terdengar bertanya kepada seorang penggemar yang mengenakan kaus Argentina mengenai apa yang baru saja dikatakan kepadanya. "FIFA mengecam keras rasisme, kebencian, dan diskriminasi dalam segala bentuknya," demikian pernyataan badan induk sepak bola dunia tersebut.

"Tindakan semacam itu tidak memiliki tempat dalam sepak bola, di Piala Dunia FIFA, maupun di tengah masyarakat." Pesan yang dikirimkan kepada IShowSpeed dan pihak humasnya untuk meminta tanggapan tidak segera mendapat balasan.

Dalam tulisannya di Aljazirah, Federico Pita pendiri dan presiden, Diáspora Africana de la Argentina (DIAFAR) mengatakan rasisme sudah mengakar di Argentina Ia mencontohkan kejadian di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir Maret lalu. 

Saat itu PBB mengesahkan sebuah resolusi penting yang mengakui perdagangan budak trans-Atlantik dan praktik perbudakan sebagai kejahatan paling berat terhadap kemanusiaan. Resolusi yang dipelopori Ghana dan didukung Uni Afrika serta Komunitas Karibia (CARICOM) itu juga menyerukan langkah-langkah konkret menuju reparasi bagi para korban dan keturunannya.

Sebanyak 123 negara anggota PBB mendukung resolusi tersebut. Sebagian besar bekas negara kolonial Eropa memilih abstain. Sementara hanya tiga negara yang menolak, yakni Amerika Serikat, Israel, dan Argentina di bawah pemerintahan Presiden Javier Milei. Sikap Argentina dalam pemungutan suara itu disebut memperlihatkan dengan jelas posisi politik pemerintah saat ini.

Namun, keputusan tersebut bukan sekadar kebijakan sesaat. Penolakan Argentina terhadap gagasan reparasi merupakan kelanjutan dari tradisi negara yang sejak awal kemerdekaannya membangun identitas nasional di atas hierarki rasial tertentu. Suara penolakan di PBB mencerminkan struktur kekuasaan yang telah membentuk sejarah Argentina sejak abad ke-19.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |