Status Geopark Ijen Diuji UNESCO, Ini Catatan Perbaikan yang Krusial

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI — Di balik lanskap kawah biru yang memukau dan reputasi sebagai destinasi geowisata kelas dunia, Geopark Ijen kini menghadapi ujian penting. Statusnya sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark (UGG) tidak bersifat permanen. Tahun ini, kawasan tersebut harus melalui proses revalidasi yang akan menentukan: dipertahankan, diperbaiki, atau bahkan dicabut.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan perhatian serius terhadap proses ini. Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mempersiapkan setiap tahapan revalidasi dengan matang agar Geopark Ijen mampu meraih kembali status green card dari UNESCO.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan bahwa dirinya bersama Bupati Bondowoso telah bertemu langsung dengan Gubernur Khofifah guna membahas kesiapan menghadapi asesmen dari tim UNESCO. Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya koordinasi lintas daerah dalam menjaga standar internasional geopark.

“Gubernur berpesan agar seluruh proses dipersiapkan dengan baik sebelum asesor dari UGG melakukan peninjauan langsung,” ujar Ipuk.

Revalidasi merupakan evaluasi menyeluruh yang wajib dilakukan setiap empat tahun sekali oleh UNESCO. Hasilnya akan menentukan status geopark, mulai dari green card (dipertahankan), yellow card (perbaikan dalam dua tahun), hingga red card yang berarti pencabutan status dari jaringan global.

Menurut Ipuk, status green card bukan sekadar simbol prestise internasional. Lebih dari itu, status tersebut menjadi pintu masuk bagi peningkatan kunjungan wisata, masuknya investasi, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pariwisata dan budaya.

Namun untuk mempertahankan status tersebut, Geopark Ijen harus memenuhi sejumlah catatan perbaikan yang diberikan UNESCO. Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, menyebut beberapa aspek krusial yang menjadi perhatian.

Di antaranya adalah penguatan riset dan pemetaan geologi yang menjadi fondasi utama geopark. Selain itu, UNESCO juga mendorong penambahan panel informasi edukatif di berbagai titik kawasan agar nilai ilmiah dan edukasi dapat tersampaikan secara optimal kepada pengunjung.

Tidak hanya aspek geologi, penguatan warisan budaya lokal juga menjadi sorotan. Geopark tidak sekadar tentang bentang alam, tetapi juga keterkaitan antara manusia, budaya, dan lingkungan yang membentuk identitas kawasan tersebut.

Lebih jauh, keaktifan badan pengelola dalam menggelar agenda berskala nasional dan internasional dinilai menjadi indikator penting. Aktivitas ini menunjukkan bahwa geopark tidak stagnan, melainkan terus hidup dan berkembang dalam jaringan global.

sumber : Antara

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |