REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia bisa dibilang salah satu negara yang berhasil menahan dampak krisis energi sepanjang agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran sebulan belakangan. Bagaimana hal itu dicapai dan bisakah ketahanan tersebut dipertahankan?
Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sedianya masih sangat tinggi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global. Struktur pasokan yang timpang ini membuat tekanan harga global langsung menjalar ke dalam negeri, dan pada akhirnya membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, untuk BBM jenis bensin, impor masih menjadi komponen utama pemenuhan kebutuhan nasional. Pada 2025, total kebutuhan bensin mencapai 100.986 kiloliter (KL) per hari, dengan porsi impor sebesar 60,18 persen. Sementara pada 2026 hingga Februari, kebutuhan tercatat 99.661 KL per hari, dengan impor masih di kisaran 59 persen.
Artinya, lebih dari separuh konsumsi BBM nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri. Dalam kondisi harga minyak dunia yang meningkat, struktur ini membuat biaya energi domestik sangat sensitif terhadap dinamika global.
Ketergantungan lebih dalam terlihat pada LPG. Pada 2025, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 25.076 metrik ton per hari, dengan impor sebesar 80,58 persen. Pada 2026, kebutuhan meningkat menjadi 26.184 metrik ton per hari, sementara porsi impor justru naik menjadi 83,97 persen. Dengan komposisi tersebut, hampir seluruh kebutuhan LPG rumah tangga Indonesia ditopang oleh impor.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Syarif menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan ketimpangan struktural antara kebutuhan dan produksi. “Kebutuhan energi kita terus meningkat, terutama untuk transportasi dan rumah tangga. Sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. Karena itu, impor masih menjadi tulang punggung pemenuhan energi nasional,” ujar Laode dalam RDP Komisi XII DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Selain volumenya besar, sumber impor juga terkonsentrasi. Sekitar 70 persen LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, diikuti Uni Emirat Arab sekitar 11 persen, serta sisanya dari Qatar, Arab Saudi, dan negara lain di Timur Tengah. Struktur ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan dan mendorong harga, sementara ketergantungan pada Amerika Serikat membuka risiko dari sisi kebijakan ekspor dan perdagangan.
Di sisi hulu, produksi minyak nasional belum menunjukkan peningkatan signifikan. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut lifting minyak Indonesia masih berada di kisaran 600 ribu barel per hari.
“Produksi kita masih di kisaran 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional jauh lebih besar. Untuk menaikkan produksi, dibutuhkan waktu, investasi, dan teknologi,” ujarnya.
.png)
7 hours ago
2

















































