REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Program gentengisasi atau mengganti atap rumah dengan genteng dimulai dari Jawa Barat (Jabar). Sebanyak 44 ribu buah genteng dikirimkan dari pabrik genteng Padi Super yang berlokasi di Desa Pamoyanan, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta kepada pembeli perdana Hunian Warisan Bangsa Purwakarta milik Lippo Grup.
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait pun melepas langsung pengiriman genteng dari pabrik itu, Selasa (14/4/2026). Menteri PKP, Maruarar Sirait mengatakan, Jabar menjadi pelaksana program gentengisasi karena dukungan ketersediaan produksi gentengnya. Selain di Purwakarta, produsen genteng juga ada di Majalengka dan Cirebon.
"Kita gelorakan gentengisasi dari Jabar sesuai arahan presiden," kata Maruarar.
Ia menyebutkan, tahun ini ditargetkan sebanyak 62.500 unit rumah subsidi akan dibangun. Dengan demikian, rumah tersebut membutuhkan sekitar 45 juta buah genteng. Hal itupun menjadi kesempatan bagi pengusaha dan UMKM genteng di Jabar untuk kembali bangkit.
Maruarar berpesan agar produksi genteng dapat dimaksimalkan dengan tetap menjaga kualitas dan harus bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). "Dari rumah subsidi saja marketnya sekitar Rp 100 miliar, belum untuk program renovasi rumah dan perumahan lainnya. Saatnya industri genteng kembali bangkit," tegasnya.
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menambahkan, dengan program gentengisasi, diharapkan industri genteng di Jabar dapat kembali tumbuh. "Nanti pengusaha harus memperbaiki upah pekerja. Pemprov Jabar siap memberikan jaminan kesehatan. Jadi pengusaha kembali untung sementara pekerja semakin sejahtera," jelas KDM, sapaan akrab gubernur.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein pun meminta genteng hasil produksi perajin dari Purwakarta memiliki kualitas yang bagus. Ia pun siap membantu proses SNI secara gratis. "Kebutuhan untuk Jabar sekitar 12 juta buah, itu bisa mencapai Rp 27 miliar. Syaratnya jaga kualitas dengan harga yang kompetitif dan karyawan harus semakin sejahtera," tuturnya.
Sementara itu, pemilik pabrik genteng, Farid mengatakan, selama ini pabriknya bermitra dengan 72 perajin genteng yang ada di Purwakarta. “Kapasitas produksi setahun maksimal hanya 3 juta buah. Jika kapasitas dapat dimaksimalkan, maka kesejahteraan pekerja dan perajin genteng tradisional akan membaik,” katanya.
Selama ini, perajin genteng hanya berproduksi dua atau tiga kali sepekan sesuai permintaan pelanggan. Jika program gentengisasi berjalan, maka produksi siap dilakukan setiap hari.
.png)
3 hours ago
1














































