Rivalitas AS-China dan Perangkap Thucydides Xi Jinping: Siapa yang Akhirnya Tumbang?

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hubungan Amerika Serikat dan China sedang berada di titik paling rumit dalam beberapa dekade terakhir. Di satu sisi, kedua negara terus bersaing dalam perdagangan, teknologi, hingga kekuatan militer. Namun di sisi lain, Washington dan Beijing justru semakin sulit untuk benar-benar berpisah.

Tiga tulisan dari media internasional, Yenisafak, RIA Novosti, dan The War Zone (TWZ), menggambarkan satu kenyataan yang sama: dunia sedang menyaksikan perebutan pengaruh global antara dua negara terkuat di abad ke-21.

Persaingan itu kini tidak lagi sekadar soal ekonomi. Ia telah bergerak ke arah yang jauh lebih besar: siapa yang akan menentukan wajah tatanan dunia di masa depan.

Ketakutan Dunia pada “Perangkap Thucydides”

Tulisan Abdullah Muradoglu di Yenisafak menyoroti konsep yang kini semakin sering dibicarakan dalam geopolitik dunia, yakni “Perangkap Thucydides”.

Istilah itu dipopulerkan ilmuwan politik Harvard, Graham Allison, berdasarkan sejarah perang antara Athena dan Sparta di Yunani kuno.

Inti teorinya sederhana: ketika kekuatan lama merasa posisinya terancam oleh kekuatan baru yang sedang bangkit, konflik besar sering kali sulit dihindari.

Dalam konteks saat ini: Amerika Serikat dipandang sebagai kekuatan lama, sedangkan China adalah kekuatan baru yang tumbuh sangat cepat.

Allison menyebut dari 16 transisi kekuatan besar dalam 500 tahun terakhir, 12 di antaranya berakhir dengan perang.

Karena itu, banyak pengamat mulai khawatir rivalitas Washington-Beijing bisa membawa dunia ke konflik besar baru.

Namun Presiden China Xi Jinping mencoba menolak anggapan bahwa perang adalah takdir yang tidak bisa dicegah. Xi mengatakan:

“Tidak ada yang namanya Perangkap Thucydides di dunia ini. Namun, jika kekuatan-kekuatan besar berulang kali melakukan kesalahan perhitungan strategis, mereka dapat menciptakan perangkap semacam itu untuk diri mereka sendiri.”

Pernyataan Xi itu menunjukkan bahwa Beijing ingin menghindari benturan langsung dengan Amerika. China tampaknya memahami bahwa perang antara dua negara terbesar dunia akan menjadi bencana global, bukan hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi ekonomi internasional.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |