REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO Rimini Street Seth Ravin menilai keberhasilan implementasi artificial intelligence (AI) tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan organisasi membangun tata kelola, keamanan siber, dan kepercayaan digital. Menurut dia, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi agar AI dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia usaha.
Seth mengatakan perkembangan AI kini memasuki fase baru melalui kemunculan Agentic AI, yakni teknologi yang tidak lagi sekadar menghasilkan rekomendasi, tetapi mampu menjalankan berbagai tugas secara mandiri sebagai "agen digital" yang mengambil keputusan dan mengeksekusi pekerjaan.
Menurut dia, perubahan tersebut membuat organisasi harus mengubah pendekatan terhadap keamanan siber. Perusahaan tidak cukup hanya melindungi aplikasi dan data, tetapi juga harus memastikan AI agent yang digunakan tetap aman, dapat dipercaya, dan tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Kepercayaan terhadap AI hanya dapat dibangun apabila organisasi mampu memastikan bahwa sistem AI tetap aman, andal, dan terlindungi dari berbagai ancaman siber," ujar Seth kepada Republika dalam Wawancara Grup Eksklusif Bersama CEO Rimini Street.
Ia menjelaskan perusahaan perlu menerapkan pendekatan keamanan yang lebih proaktif melalui perlindungan berlapis terhadap aplikasi, data, dan AI agent. Dengan pendekatan tersebut, organisasi dapat merespons ancaman siber dalam hitungan menit tanpa harus menunggu siklus pembaruan perangkat lunak yang kerap memerlukan waktu berbulan-bulan.
Menurut Seth, meningkatnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap pengembangan AI dan penguatan tata kelola keamanan siber merupakan langkah positif dalam membangun ekosistem digital yang sehat.
Ia menilai inovasi dan keamanan tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berkembang secara beriringan agar transformasi digital mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi dunia usaha maupun masyarakat.
Selain memperkuat tata kelola, Seth juga menilai perusahaan perlu mulai mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola AI secara bertanggung jawab. Ke depan, kebutuhan terhadap talenta yang memahami integrasi sistem, kualitas data, dan keamanan AI diperkirakan akan semakin meningkat seiring meluasnya pemanfaatan teknologi tersebut.
Menurut dia, AI bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari transformasi bisnis yang membutuhkan fondasi tata kelola yang kuat agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kepercayaan digital.
.png)
1 day ago
10

















































