Indeks Manufaktur ISM yang tercermin lewat Purchasing Managers Index (PMI) saat ini masih dalam fase kontraksi karena di bawah level 50 poin.
Indeks Manufaktur ISM yang tercermin lewat Purchasing Managers Index (PMI) saat ini masih dalam fase kontraksi. (Foto: Reuters)
IDXChannel - Indeks Manufaktur ISM yang tercermin lewat Purchasing Managers Index (PMI) saat ini masih dalam fase kontraksi karena di bawah level 50 poin. Namun, pada Juli 2025, PMI mulai merangkak naik ke 49,2 poin dibandingkan bulan sebelumnya 46,9 poin.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan meski belum ekspansif, indeks manufaktur yang naik pada awal semester II-2025 menunjukkan geliat di sektor industri. Capaian ini mencerminkan membaiknya sentimen pelaku industri dalam beberapa pekan terakhir.
PMI manufaktur Indonesia, kata dia, PMI manufaktur Indonesia pada Juli 2025 tercatat mampu melampaui PMI manufaktur Jepang (48,8), Prancis (48,4), Inggris (48,2), Korea Selatan (48,0), dan juga Taiwan (46,2).
“PMI naik karena beberapa minggu terakhir terdapat dinamika kebijakan yang membuat pelaku industri lebih optimistis,” ujar Febri lewat keterangan resmi, Sabtu (2/8/2025).
Menurut Febri, optimisme para pelaku industri dalam negeri itu terjadi karena sejumlah faktor. Salah satunya kesepakatan tarif yang baru-baru ini terjalin antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Dia pun memuji Kepala Negara saat bernegosiasi dengan Presiden Donald Trump.