Pertamina-Boeing Sepakati Pengembangan Bahan Bakar Pesawat dengan Minyak Jelantah hingga Limbah Padi

4 hours ago 2

Pertamina (Persero) dan pabrikan pesawat dunia, Boeing, resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Dok Ist)

Pertamina-Boeing Sepakati Pengembangan Bahan Bakar Pesawat dengan Minyak Jelantah hingga Limbah Padi (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel - PT Pertamina (Persero) dan pabrikan pesawat dunia, Boeing, resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan.

Penandatanganan strategis ini dilakukan oleh President Director dan CEO Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, bersama Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, di sela perhelatan Indonesia Aero Summit (IAS) 2026.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub, Shokib Al Rokhman, yang mewakili Direktur Jenderal Perhubungan Udara, menyatakan transformasi sektor penerbangan nasional memerlukan fondasi kuat melalui investasi berkelanjutan dan teknologi modern.

Kerja sama pengembangan SAF ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan aviasi di kawasan Asia Pasifik.

"Indonesia memiliki peluang besar, namun keberhasilan kita ditentukan oleh kemampuan membangun ekosistem penerbangan yang modern melalui kolaborasi kuat. Penyusunan master plan aviasi akan menjadi dasar agar kita mampu menjawab tantangan masa depan dan memperkuat daya saing global," ujar Shokib dalam sambutannya dalam pembukaan IAS 2026 di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Pengembangan SAF diharapkan dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan di industri penerbangan nasional. Selain itu, langkah ini diharapkan mampu menarik lebih banyak investor internasional untuk terlibat dalam memperkuat ekosistem aviasi Indonesia, mulai dari penyedia energi, perusahaan pemeliharaan pesawat (MRO), hingga penyedia sumber daya manusia.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyambut baik kemitraan yang dijalin dengan Boeing untuk pengembang bahan bakar pesawat berbasis nabati ini.

Harapannya, keberadaan SAF mampu menjadi diversifikasi konsumsi bahan bakar yang tidak bergantung dari energi fosil. 

Ia menilai, ke depannya SAF bukan dipandang sekedar untuk menurunkan emisi, akan tetapi sebagai instrumen vital untuk memperkuat ketahanan bahan bakar, mendiversifikasi pasokan, dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang. 

"SAF (Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan) bukan lagi sekadar cerita tentang iklim; ini telah menjadi cerita tentang ketahanan energi," kata Simon. 

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde menambahkan, kerja sama yang dilakuan bersama Pertamina termasuk di antaranya penelitian untuk mencari sumber bahan baku lokal untuk pembuatan SAF, terdiri dari minyak jelantah, POME (limbah cair kelapa sawit), limbah padi, dan limbah kelapa.

"Kami percaya bahwa semua upaya ini akan membantu memperkuat kapabilitas teknis Indonesia, kesiapan pasar, dan kepemimpinan jangka panjang dalam penerbangan berkelanjutan—tidak hanya di sini secara regional, tetapi saya ingin kita memiliki ambisi untuk memimpin pasar secara global," kata dia.

Boing mengembangkan program BUILD (Boeing University Innovation Leadership Development) yang dikerjasamakan dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT Pertamina untuk mencari formula pengumpulan limbah minyak untuk digunakan sebagai bahan baku SAF.

Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), Denon Prawiraatmadja, menyambut positif kolaborasi antara Pertamina dan Boeing. Menurutnya, di tengah tantangan krisis geopolitik global yang menekan industri, terobosan teknologi seperti penggunaan bahan bakar berkelanjutan sangat krusial untuk menjaga keberlangsungan konektivitas udara.

"Dalam Indonesia Aero Summit 2026 ini, kami mendorong semua pihak untuk tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar, tetapi juga tempat untuk berinvestasi, khususnya di bidang teknologi yang terus berkembang. Melalui ekosistem yang kuat, kita bisa memastikan operasional penerbangan tetap berjalan meski menghadapi tekanan global," kata Denon.

(kunthi fahmar sandy)

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |