Pasokan Dunia Terganggu, Dari Mana Indonesia Impor BBM?

9 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Singapura dan Malaysia masih menjadi sumber utama pasokan BBM impor Indonesia, baik untuk jenis bensin maupun solar. Ketergantungan itu masih terlihat di tengah upaya pemerintah menjaga pasokan energi nasional saat rantai pasok global menghadapi tekanan.

Ketergantungan terbesar terjadi pada komoditas bensin, di mana impor masih mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional sepanjang 2025 hingga awal 2026. “Untuk importasi minyak bensin yang paling dominan ini berasal dari Singapura dan Malaysia, karena posisi bensin kebutuhan sampai saat ini masih membutuhkan importasi,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Rizwi menjelaskan, pada 2025 impor minyak bensin masih mendominasi sekitar 60,18 persen dari total kebutuhan nasional. Memasuki 2026 hingga Februari, porsinya sedikit menurun menjadi 59 persen. Kebutuhan minyak bensin nasional pada 2025 tercatat mencapai 100.986 kiloliter per hari. Pada 2026 hingga Februari, kebutuhannya sedikit turun menjadi 99.661 kiloliter per hari.

Jika dirinci, kebutuhan minyak bensin jenis JBKP atau bersubsidi pada 2025 mencapai 76.932 kiloliter per hari. Angka itu turun menjadi 74.407 kiloliter per hari pada 2026 hingga Februari.

Di sisi lain, kebutuhan minyak bensin jenis BBM umum atau non-subsidi justru meningkat. Pada 2025 kebutuhannya tercatat 24.055 kiloliter per hari, lalu naik menjadi 25.254 kiloliter per hari pada 2026 hingga Februari.

Untuk minyak solar, pemerintah mencatat perkembangan yang lebih baik dari sisi pengendalian impor. Kebutuhan nasional masih naik, tetapi porsi impor berhasil ditekan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Untuk minyak solar, kebutuhan relatif meningkat namun impor berhasil ditekan dari 12,17 persen di tahun 2025 menjadi hanya 6,26 persen di tahun 2026 sampai dengan Februari 2026,” ujar Rizwi.

Kebutuhan minyak solar nasional pada 2025 mencapai 110.932 kiloliter per hari. Memasuki 2026 hingga Februari, kebutuhannya naik tipis menjadi 111.356 kiloliter per hari.

Berdasarkan jenisnya, kebutuhan minyak solar JBT atau subsidi pada 2025 sebesar 50.466 kiloliter per hari. Angka itu naik menjadi 52.373 kiloliter per hari pada 2026 hingga Februari.

Adapun kebutuhan solar non-subsidi pada 2025 tercatat 60.466 kiloliter per hari, lalu turun menjadi 58.983 kiloliter per hari pada 2026 hingga Februari. Meski porsi impor solar mulai turun, sumber importasinya masih bertumpu pada negara yang sama.

“Untuk importasinya juga paling dominan berasal dari Singapura dan Malaysia, baik tahun 2025 maupun 2026,” ucap Rizwi.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |