Makin Panas, Netanyahu Usir Spanyol dari Pusat Koordinasi Militer Sipil Gaza

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa ia telah mengeluarkan Spanyol dari Pusat Koordinasi Militer Sipil yang bertugas mengawasi gencatan senjata di Gaza. Langkah ini menandai kian retaknya hubungan kedua negara seturut dukungan Spanyol terhadap Palestina.

Badan yang terdiri dari petugas militer berbagai negara itu didirikan sebagai bagian dari 20 poin rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump yang menjadi dasar gencatan senjata di Gaza. Kantor pusat koordinasi itu didirikan di Kiryat Gat, wilayah yang dikuasai Israel.

"Israel tidak akan tinggal diam menghadapi mereka yang menyerang kami. Spanyol telah mencemarkan nama baik pahlawan kami, prajurit IDF, prajurit tentara paling bermoral di dunia," kata Netanyahu dilansir Times of Israel

“Oleh karena itu, saya telah menginstruksikan hari ini untuk mencopot perwakilan Spanyol dari pusat koordinasi di Kiryat Gat, setelah Spanyol berulang kali memilih untuk menentang Israel.

Trump menyatakan tak akan membiarkan negara manapun melancarkan perang diplomatik terhadap Israel “tanpa membayar konsekuensi yang setimpal."

Hal ini terjadi di tengah kritik tajam Spanyol terhadap perang Israel terhadap Iran, kebijakan Israel di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, serta kampanye pemboman dan invasi mematikan di Lebanon.

Yang terkini, Spanyol mengecam serangan Israel di Lebanon serta perang yang lebih luas terhadap Iran pada Kamis. Dalam sambutannya kepada anggota parlemen, Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares menggambarkan konflik tersebut sebagai serangan terhadap peradaban, dan mengulangi kritik pedas yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Pedro Sanchez terhadap keputusan Trump untuk menyerang Republik Islam.

“Kita menghadapi serangan terbesar terhadap peradaban yang dibangun berdasarkan cita-cita humanis mengenai akal budi, perdamaian, pemahaman dan hukum universal atas penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan dan kesewenang-wenangan,” kata Albares.

Dia menuduh Israel melanggar hukum internasional dan gencatan senjata dua minggu yang baru ditengahi setelah gelombang serangan udara besar-besaran di Lebanon menewaskan lebih dari 250 orang pada hari Rabu.

Sanchez, yang muncul sebagai penentang utama perang tersebut, telah menutup wilayah udara Spanyol bagi pesawat apa pun yang terlibat dalam konfrontasi yang ia sebut sebagai tindakan sembrono dan ilegal.

Pada Rabu malam, ia mengulangi seruannya agar Uni Eropa membatalkan perjanjian asosiasinya dengan Israel, dan mendesak diakhirinya “impunitas atas tindakan kriminal (Israel)”.

Dalam sebuah postingan di X, Sanchez mengatakan “penghinaan terhadap kehidupan dan hukum internasional yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak dapat ditoleransi”.

Read Entire Article
IDX | INEWS | SINDO | Okezone |